Katanya Karier Perempuan Bakal Berhenti Saat Miliki Anak. Apakah Selalu Terjadi Secara Mutlak?

karier perempuan terhenti

Kadang setelah menjadi seorang ibu, maka akan ada fase di mana kita jadi merasa serba salah. Saat sudah mantap jadi ibu rumah tangga, malah banyak yang bilang kalau gelarnya sayang. Sekolah tinggi-tinggi tapi tidak dimanfaatkan. Sedangkan jika tetap memilih untuk bekerja, tetap ada saja yang berkomentar bahwa anak yang diurus oleh orang lain nanti hasilnya akan berbeda, lebih baik untuk fokus mengurus anak saja.

Advertisement

Terlepas dari itu semua, ketika sudah menjadi ibu akan ada tanggung jawab baru. Makanya, banyak yang bilang bahwa karier seorang perempuan bisa saja terhenti ketika memiliki seorang anak. Padahal sebenarnya belum tentu juga lo, semua keputusan ada di tangan kamu dan pasangan tentunya harus dengan berbagai pertimbangan dan kesiapan. Kita kulik lebih dalam yuk tentang karier perempuan yang katanya terhenti setelah punya anak!

Biasanya fase produktivitas seorang perempuan yang memendek ini terjadi karena adanya tanggung jawab yang dipikul lebih besar ketika menjadi ibu

Sebagai orang tua baru maka tanggung jawab akan bertambah yaitu merawat anak dengan sebaik-baiknya. Dibandingkan ayah, mungkin anak akan lebih ‘lengket’ dengan ibu karena fase menyusui atau ASI eksklusif selama 6 bulan pertama dan dilanjutkan pemberian ASI serta makanan pendamping hingga usia 2 tahun. Walaupun tak harus diberikan secara langsung namun tanggung jawab seperti inilah yang membuat anggapan bahwa karier ibu akan terhenti ketika sudah memiliki anak jadi beredar. Belum lagi anggapan-anggapan bahwa ibu harus mengurus segala pekerjaan rumah juga.

Untuk mencegah hal ini terjadi, kamu perlu membicarakannya dengan pasangan bahkan jauh sebelum pernikahan terlaksana

Seperti yang mungkin kamu sudah tahu bahwa sebelum pernikahan sebaiknya banyak hal yang dibicarakan secara terbuka untuk mengetahui visi dan misi masing-masing dan menentukan apakah cocok atau ternyata tak bisa bersama. Salah satunya ya membicarakan tentang apakah kamu diperbolehkan kembali bekerja ketika sudah memiliki anak atau tidak, jika iya pekerjaan seperti apa yang akan diambil, hingga bagaimana nasib anakmu kelak, dsb.

Advertisement

Jangan lupa untuk menentukan prioritas, anak tentu jadi yang utama sehingga kamu perlu memikirkan bagaimana ia jika nanti kamu dan pasangan bekerja

Kamu dan pasangan juga harus memikirkan bagaimana nasib si anak saat kalian sama-sama bekerja, apakah akan ikut oleh kakek neneknya, dititipkan ke day care, atau memilih untuk menggunakan jasa babysitter. Hal ini tentunya juga berkaitan dengan bujet yang diperlukan untuk membayar jasa tersebut. Nah, ini juga jadi salah satu hal yang kemudian membuat beberapa ibu memilih untuk mengurus anak sendiri dan berhenti bekerja karena dianggap pengeluaran akan lebih besar. Makanya, kalau ingin tetap bekerja perlu pintar-pintar mempertimbangkannya.

Kamu mungkin akan ada di fase ‘pause button’ untuk berpikir sejenak, namun sebaiknya tidak berhenti begitu saja ya

Dilansir dari QM Financial, pause button adalah sebuah fase di mana banyak kegiatan harus berhenti sementara sehingga yang melakukan seperti diberhentikan sementara hidupnya. Banyak ibu baru yang mengalami fase ini, waktu di mana kehidupan seperti berjalan di tempat. Meskipun demikian tak apa untuk justru berpikir kembali mengenai tujuan dan strategi untuk menghadapi kehidupan baru dengan si kecil dan supaya semuanya tetap bisa teratasi.

Advertisement

Kamu juga perlu mengingat bahwa pekerjaan tak harus selalu dikerjakan di kantor kok. Justru di saat-saat cuti, kamu bisa memikirkan kembali apa pekerjaan yang cocok untukmu namun tetap bisa mencurahkan kasih sayang untuk si kecil. Bahkan di rumah pun, kamu tak hanya bisa bekerja namun tetap mengikuti berbagai kelas dengan jadwal yang disesuaikan untuk mengembangkan diri.

Ingat, memiliki anak bukanlah sebuah batasan untuk terus mengembangkan diri termasuk karier. Buktinya, banyak juga yang sudah menunjukkan bahwa ada yang kariernya dan perkembangan anak berjalan sama baiknya. Intinya perlu dipersiapkan dan dikomunikasikan supaya nggak keteteran.

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Editor

An independent woman, loving mom and devoted wife.

CLOSE