Perpisahan adalah hal yang tidak pernah diinginkan setiap pasangan. Tetapi meski sudah sangat dihindari, nggak bisa dimungkiri selalu saja ada permasalahan rumah tangga yang membuat banyak pasangan memilih menyerah dengan pernikahannya. Jumlah kasus perceraian di Indonesia tidak sedikit. Jumlah ini bahkan terus meningkat dari tahun ke tahun. Kita juga nggak bisa memaksa pasangan untuk tidak bercerai begitu saja dan menyalahkan keputusan mereka.

Selain itu kita sering mendengar soal kasus perceraian yang marak di kalangan selebritis tanah air. Memang sih, kita selalu bisa menyangkal bahwa hanya di kalangan selebritis saja yang ‘hobi’ menikah kemudian berpisah. Tetapi dari data dalam beberapa tahun terakhir, menunjukkan bahwa meningkatnya angka perceraian itu bukan hanya di kalangan selebritis lho. Secara umum, perceraian jadi fenomena yang makin lumrah terjadi di Indonesia. Yuk kita bahas bareng Hipwee News & Feature buat memahami pentingnya informasi soal pernikahan dan perceraian di kalangan anak muda!

Banyak yang bilang kalau itu fenomena di kalangan selebriti aja, tapi nyatanya angka perceraian di kalangan umum di Indonesia juga sedang tinggi-tingginya

Kayaknya tiap minggu pasti ada aja yang cerai via idrus.co

Perceraian Gracia Indri dan David Noah baru-baru menjadi sorotan publik. Pasangan yang menikah pada 2014 lalu ini pun tidak memaparkan permasalahn rumah tangganya. Masih dari dunia selebriti, Indadari juga dikabarkan menggugat cerai suaminya, Caisar pada 4 September lalu. Masih banyak lagi artis yang memutuskan bercerai, salah satunya Aming dan Evelyn yang nampaknya mesra di depan publik. Perceraian di kalangan selebritis ini bukan hal baru untuk masyarakat, meskipun pada dasarnya tidak pernah ada yang berharap siapa pun untuk bercerai namun kenyataannya memang jumlah artis yang pernikahannya langgeng hanya sedikit.

Kenyataannya itu bisa dibuktikan dengan angka dari Kementrian Agama yang merekam seluruh kasus perceraian di Indonesia

Memutuskan untuk berpisah padahal bukan hal yang mudah via 99.co

Advertisement

Realita ini berbanding lurus dengan kenyataan di kalangan masyarakat. Puslitbang Kemenag menyebutkan bahwa di tahun 2010-2014 saja angka perceraian di Indonesia semakin meningkat. Tercatat dari dua juta pasangan yang menikah, sebanyak 300,000 diantaranya bercerai. Nah kalau sudah begini kita jadi bisa melihat bahwa perceraian ini nggak hanya terjadi di kalangan artis ‘kan, tapi juga terjadi pada masyarakat umum. Angka ini sangat mengkhawatirkan. Terkadang kita mungkin bertanya, apa sih yang salah dari kebiasaan kita dalam menjalin hubungan. Kok segitunya sih gugatan cerai jadi mudah dilontarkan banyak pasangan?

Penyebabnya beragam. Mulai faktor ekonomi, psikologis, sampai kurangnya ruang pengaduan masalah keluarga. Andai semua masalah bisa diselesaikan dengan kepala dingin, mungkin perceraian bisa menurun

Ruang pengaduan yang bisa mendamaikan konflik pasangan sangat minim di Indonesia via loriunderwoodtherapy.com

Meski enggan diakui, masalah ekonomi bisa dibilang jadi masalah paling pelik dalam berumah tangga. Nggak heran calon mertua pasti memandang profesi apa yang dipunyai menantunya. Bukan semata-mata karena matre sih, tapi lebih ke upaya preventif biar permasalahan ekonomi nggak merundung rumah tangga anaknya kelak.

Faktor psikologis tentunya yang berhubungan dengan kepribadian masing-masing pasangan. Bagaimana tempramen masing-masing individu, tekanan yang diberikan salah satu pasangan juga ikut berperan. Pasangan yang menikah terlalu muda paling banyak mengalami ini. Permasalahan ini sebenarnya membutuhkan mediasi dari pihak yang netral. Namun selama ini kita belum terbiasa untuk membawa permasalahn rumah tangga ini ke pihak lain. Paling jauh, keluarga besar saja yang memediasi dan tentunya sulit bagi keluarga memediasi karena akan memihak pada salah satu.

Nah kalau soal kurangnya ruang pengaduan, seharusnya dinas-dinas sosial terkait juga ikut berperan. Minimnya kesadaran untuk pergi ke ruang pengaduan, seperti pskiater ini disebabkan pandangan dan stigma negatif di kalangan masyarakat kita. Orang yang pergi menyelesaikan masalah pada ahli psikologi justru dicap sebagai orang yang terlalu bermasalah. Padahal kita sangat membutuhkan pihak untuk mengurai permasalahan yang sulit dipecahkan. Pskiater dan ruang aduan juga bisa diposisikan sebagai pihak netral.

Untungnya masih ada daerah-daerah yang punya inisiatif unik untuk menurunkan angka perceraian di wilayahnya. Seperti program senja keluarga di Wonosobo

Ada juga yang mengadakan penyuluhan untuk calon pengantin via www.jateng.kemenag.go.id

Tahukah kalian kalau ternyata mereka yang bercerai ini seringnya adalah pasangan yang menikah muda?Dalam waktu kurang dari lima tahun kebanyakan dari mereka memutuskan untuk bercerai. Dari sinilah Kementrian Agama membuat program sosialisasi pranikah untuk mencegah perceraian terjadi. Terutama mereka yang dimabuk asmara ketika usia muda dan cenderung labil untuk memutuskan. Calon pengantin diberikan materi mengenai undang-undang pernikahan, fungsi reproduksi, hingga manajemen konflik rumah tangga.

Selain sosialisasi, salah satu kabupaten di Jawa Tengah yaitu Wonosobo membuat inisiatif program senja keluarga. Program ini dimaksudkan untuk membangun keluarga yang sejahtera dan harmonis dengan memanfaatkan waktu kebersamaan saat senja atau sore hari. Program ini disosialisasikan hingga tingkat RT agar setiap keluarga menggunakan waktu senja untuk berkumpul bersama keluarga dan menikmati senja bersama dengan santai. Sehingga hubungan keluarga jadi makin harmonis dan perceraian jadi pilhan akhir untuk menyelesaikan konflik nantinya.

Buat kamu yang belum berkeluarga, penting juga mengetahui hal ini sebagai persiapan mentalmu mengarungi samudra pernikahan. Pernikahan bukanlah hal yang mudah diputuskan karena seharusnya ini dilakukan hanya sekali seumur hidup. Tidak ada orang yang menikah dengan niat untuk berpisah ‘kan?

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya