Menjadi generasi millennial ada untungnya dan ada ruginya. Untungnya, tentu kita punya kesempatan untuk mengejar mimpi lebih luas daripada generasi zaman dulu. Mudahnya akses informasi dan banyaknya bidang-bidang baru memberi kita ruang gerak yang luas. Sementara kemajuan zaman juga membuat pikiran juga semakin terbuka. Ruginya, kaum millennial terkenal dengan generasi yang pembosan, sulit konsisten pada satu hal dalam jangka waktu yang lama.

Kita barangkali adalah generasi yang tertarik pada risiko. Bila generasi terdahulu bisa bertahan di suatu tempat hingga puluhan tahun, kita bisa tiba-tiba saja memutuskan ingin pergi karena merasa apa yang kita jalani selama ini bukanlah yang kita inginkan. Lantas dengan semangat mengejar mimpi yang sesungguhnya, kita mengorbankan banyak hal, mulai dari meninggalkan pekerjaan hingga mengeluarkan modal yang besar.

Kita memang harus punya mimpi agar hidup terarah. Dan mimpi haruslah dikejar. Namun ada kalanya apa yang kita sebut mimpi hanyalah keinginan sesaat saja. Karenanya, sebelum benar-benar melangkah, tinjau dulu mimpimu. Apakah itu benar-benar sudah yang kamu mau? Apakah kamu sudah benar-benar tahu ke mana arahmu?

1. Sekilas bermimpi itu pekerjaan gampang. Namun menentukan mimpi mana yang harus dikejar dalam keterbatasan waktumu, itu sulit

Menentukan mimpi sama dengan menentukan masa depan via unsplash.com

Apa sulitnya bermimpi? Secara sederhana, kita hanya perlu tidur dan memimpikan sesuatu. Secara lebih dalam, kita tinggal memikirkan apa yang ingin kita raih di masa depan. Namun di kehidupan nyata, menyusun mimpi tidak segampang itu. Ingin punya usaha sendiri, ingin jadi dosen, ingin jadi artis, ingin jadi travel blogger, adalah mimpi-mimpi yang bisa kita sebutkan dengan mudah. Tapi yang mana yang ingin kamu tekuni seumur hidupmu dan yang mana yang hanya kamu inginkan untuk memuasi rasa penasaranmu?

2. Kamu bertekad untuk mengejar mimpimu, dengan merelakan apa yang kamu punya saat ini. Pastikan dulu, apakah itu mimpi atau sekadar pelarian sesaat?

Advertisement

Sia-sia saja jika hanya mengejar pelarian sesaat via unsplash.com

Mudahnya seperti saat kita membicarakan soal pekerjaan. Banyak yang mengatakan bahwa yang terbaik adalah bekerja sesuai passion. Dengan begitu kamu tidak akan terasa seperti bekerja. Dengan alasan inilah kita bisa meninggalkan pekerjaan yang kita anggap bukanlah mimpi yang ingin kita hidupi. Kamu ingin bebas, keluar, dan mengejar mimpimu yang sesungguhnya. Namun sebelum kamu benar-benar meninggalkan pekerjaanmu, apakah kamu sudah benar-benar tahu apa yang ingin kamu kejar di luar sana? Apakah kamu sudah yakin bahwa apa yang kamu jalani saat ini bukan mimpimu? Atau barangkali kamu hanya sedang bosan saja?

3. Sebagai generasi millennial, angin yang menggoyah kita lebih besar. Apakah keinginanmu sudah muncul dari hati, atau hanya sekadar ikut-ikutan tren masa kini?

Benarkah itu wujud idealisme ataukah sekadar ikut tren zaman? via unsplash.com

Generasi millennial hidup di era berjayanya teknologi. Mudahnya informasi menyebar, di satu sisi bisa menyebarkan motivasi dan inspirasi. Namun di sisi lain, bisa juga menjadi angin kencang yang menggoyah kaki. Banyaknya pilihan yang kita punya akibat dari kebebasan yang lebih luas, mengharuskan kita untuk berpikir matang-matang sebelum menentukan. Apa yang kamu kejar itu apakah benar-benar mimpimu atau sekadar mengikuti perkembangan zaman alias ikut-ikutan?

4. Mungkin mimpi usang yang ingin kamu tinggalkan, sebenarnya masih valid. Hanya sekadar kelelahan yang buat kamu jenuh dan ingin menyerah

Ibarat perjalanan, mungkinkah kamu hanya sedang lelah saja? via unsplash.com

Lantas apa yang ingin kamu tinggalkan saat ini sudah benar-benar sesuatu yang tidak kamu jadikan list keinginanmu? Bila kamu ingin meninggalkan pekerjaanmu yang terasa sangat berat dan menekan, apakah benar karena itu bukan bidangmu, ataukah kamu hanya sedang bosan saja? Hal ini penting, sebab ketika meninggalkan sesuatu, tentu kita harus sudah punya rencana untuk hal lain. Namun bila sebuah keputusan hanya didasarkan pada rasa bosan, rencana apapun yang kita susun akan bersifat penghiburan semata.

5. Berarti yang kamu butuhkan bukan perubahan jalur menuju mimpi baru yang masih abstrak, tapi hanya sekadar istirahat untuk kembali kumpulkan energi dan motivasi

Istirahat itu kunci sukses via unsplash.com

Rasa bosan dan jenuh adalah hal yang biasa dalam kehidupan sehari-hari. Tidak melulu karena kamu belum berada di jalur yang tepat, melainkan juga meskipun kamu sudah berada di tempat yang tepat. Apa yang kita sebut passion, tidak menutup kemungkinan kita mengalami kejenuhan di sana. Apapun itu bila sudah dijalani terlalu lama, tentu akan menumbuhkan rasa bosan dan keinginan untuk mengerjakan hal yang lainnya. Bila ini yang terjadi, belum tentu kamu membutuhkan perubahan haluan. Bisa jadi, kamu hanya butuh refreshing dan liburan.

6. Setiap mimpi harus dipikirkan dan direncanakan dengan matang. Bukan sekadar menuruti sifat impulsif semata lalu berhenti di tengah jalan

Harus direncanakan dengan matang, agar tak bosan di tengah jalan via unsplash.com

Setiap mimpi memang harus dikejar. Namun sebelumnya, mimpi juga harus direncanakan dengan matang. Sifat impulsif yang dekat dengan rasa ingin ikut-ikutan bukan salah satu sifat mimpi yang harus dikejar. Sebab mengejar mimpi yang seperti itu, bukan tidak mungkin membuat kita ‘hilang rasa’ di tengah jalan karena bosan saja. Hanya karena sekarang sedang tren ini, bukan berarti kamu harus ikut juga. Menentukan mimpi tidak bisa sembarangan. Sebab itulah arah hidup yang kamu inginkan.

7. Sebab menemukan sesuatu yang ingin dilakukan selamanya memang tak mudah, tak mengapa bila kini kamu belum tahu arah. Yang penting, jangan gegabah

Menentukan arah memang tak mudah via unsplash.com

Di usia 20-an kita akan dihadapkan pada hari-hari galau untuk menentukan kehidupan. Bila sekarang usiamu 20-an dan mulai gelisah karena tak kunjung tahu apa yang kamu mau, tak perlu tertekan. Kamu bukan satu-satunya yang merasakan. Menentukan arah hidup memang tidak mudah. Sebab dalam pikiran kita mungkin ada segudang hal yang ingin kita wujudkan. Karena itu, kita harus melakukan wawancara mendalam dengan diri sendiri, dan barangkali, mencoba berbagai kemungkinan. Apa yang ingin kamu lakukan dan apakah kamu sudah berada di jalur yang tepat adalah pertanyaan yang susah dijawab, namun pelan-pelan kamu pasti bisa menentukannya.

Merancang mimpi sama dengan merancang masa depan. Bila kita sudah tahu apa tujuan kita, kita bisa segera menyalakan kompas, dan menentukan ke arah mana kita harus melangkah. Jelas, setiap mimpi memang harus dikejar. Sedikit atau banyak pengorbanan mungkin dibutuhkan, tak mengapa demi kebahagiaan yang lebih besar. Namun sebelum itu, jelas kita perlu menentukan arahnya terlebih dahulu. Untuk kata kunci pertama, jawablah pertanyaan ini: lima tahun dari sekarang, kamu ingin melihat dirimu sebagai apa?

Suka artikel ini? Yuk follow Hipwee di mig.me!