“Kalau mau sukses, ya jangan stay di zona nyaman dong!”

Dalam perjalanan hidupmu, seberapa sering kamu mendengar kalimat di atas? Kalimat yang bernada motivasi agar kita segera bangkit dan meninggalkan zona nyaman. Seakan-akan zona nyaman itu batasan mental yang buat kita sering bermalas-malas tanpa punya kesempatan untuk berkembang.

Tapi kalau ditilik lebih dalam, sebenarnya apa sih salahnya merasa nyaman melakukan pekerjaan atau hal-hal yang biasa kita lakukan. Bukan berarti juga kita tidak bisa menemukan kesempatan untuk berkembang dalam kenyamanan tersebut. Dalam buku The Unspeakable: And Other Subjects of Discussion, Megan Dhaum berargumen tentang masalah ini. Dhaum yakin kalau kunci dari kepuasan hidup justru terletak pada keberhasilanmu hidup semaksimal mungkin dalam batasan zona nyaman.

Perumpamaan sederhana Dhaum, tetaplah berada di perairan yang aman tapi cobalah menyelam sedalam mungkin dari permukaan. Jadi misal nggak bisa masak dan sama sekali nggak tertarik belajar masak, ya sudah. Jangan buang waktumu bergumul dengan ide ingin belajar memasak, hanya karena semua orang menasihatimu untuk memperbaiki diri .

Jadilah orang terbaik yang nggak bisa masak, misal dengan punya pengetahuan mendalam tentang warung murah yang enak atau daftar teman yang hobi masak. Dengan mengeliminasi keraguan yang nggak perlu itu, kamu bisa lebih berkonsentrasi mengerjakan apa yang kamu suka, bisa, dan ingin sebaik mungkin.

Merasa nyaman dalam hidup itu bukan berarti tak melakukan apa pun. Kenyamanan yang sebenarnya datang ketika kita sudah menemukan keseimbangan antara passion dan realitas

Advertisement

Urusannya sama passion! via www.yourcanvasawaits.com

Gambaran mental akan zona nyaman yang dipenuhi sofa empuk untuk bergulung-gulung seharian tanpa dituntut melakukan apapun, tampaknya tidak akurat. Realitanya, siapa coba yang bakal merasa nyaman tanpa kewajiban atau tanggungjawab yang harus dipenuhi. Sehari-dua hari menganggur dari rutinitas pasti nyaman berasa bak di surga. Tapi coba beneran jadi pengangguran yang bebas untuk tidak melakukan apa pun, pasti justru berasa seperti di neraka.

Manusia itu pada hakikatnya perlu bernapas, bergerak, dan berkarya untuk dapat merasa hidup. Tidak ada orang malas yang benar-benar nyaman dengan kemalasannya. Jadi salah kaprah kalau zona nyaman itu disebut zona malas. Tapi seharusnya justru zona dimana instingmu untuk berkarya selaras dengan semua kenyataan lain dalam hidupmu. Meski yang kamu kerjakan saat ini tak bergengsi di mata orang lain atau tidak bakal membuatmu jadi pemilik rumah dalam 10 tahun ke depan, jika kamu sudah bahagia dan menemukan kepuasan batin, apa lagi coba yang mau dikejar?

Bernaung di zona nyaman sering dituduh sebagai pembenaran diri bagi mereka yang takut hadapi tantangan. Perlu dibedakan, antara yang pengecut dan yang punya pendirian hidup

Menikmati batasan kenyamanan diri itu juga kebahagiaan via unsplash.com

Selain disetarakan dengan sifat malas, zona nyaman juga identik dengan mereka yang tidak menyambut tantangan dengan tangan terbuka. Akibatnya, mereka yang terus berada dalam zona nyaman dianggap tidak pernah berkembang. Namun jika mengingat deskripsi zona nyaman di atas, setelah menemukan keseimbangan antara passion dan realitas, buat apa juga sibuk menghabiskan waktumu yang berharga mencari versi perbaikan diri yang masih abstrak.

Kunci utamanya adalah untuk mengenali dirimu sepenuhnya, apa yang benar-benar kamu inginkan, apa saja yang bersedia kamu korbankan, dan sejauh mana kamu mau berkompromi dengan tekanan dari luar. Terdapat perbedaan besar antara mereka yang tidak berani mengejar apa yang diinginkan sehingga berdiam diri dalam zona yang sebenarnya tidak nyaman, dan mereka yang sudah menemukan kenyamanan sehingga menolak mengikuti standar kesuksesan orang lain.

Mereka yang yakin dengan batasan dirinya sendiri, tahu kapan harus berpuas diri dengan semua pencapaiannya. Meski banyak yang bilang jadi manusia itu tidak boleh gampang berpuas diri, tapi jika ingat keterbatasan umur seharusnya tiap orang tahu kapan harus berhenti merasa tertantang dan merasa nyaman serta bahagia dengan dirinya sendiri.

Tak hanya mereka yang berani mencari puncak baru untuk ditaklukan, bisa berkembang. Terus mengulik jalur berbeda menuju puncak yang sama pun juga bentuk pengembangan diri

Tak harus berpindah tempat, menyelamlah lebih dalam via unsplash.com

Bertahan dalam zona nyamanmu, bukan berarti diam di tempat tanpa melakukan apa pun. Tapi justru bertahan terus melakukan apa yang membuatmu nyaman, tanpa harus merasa perlu mencoba hal lain yang menurut orang lain akan lebih baik untuk masa depanmu. Di saat itulah, kamu akan mendapat berbagai sentilan menyebutmu sebagai orang yang tidak mau berkembang.

Namun sekali lagi jika kamu sudah yakin akan batasan dirimu, kenyamanan adalah hal yang harusnya disyukuri bukan digugat. Tanpa harus terus merenungkan perlukah coba hal ini atau hal itu, kamu justru bisa memfokuskan segala potensi yang dimiliki untuk jadi yang terbaik dalam batasan kenyamananmu.

Lihat saja mereka yang sudah nyaman dengan hal yang mereka jalani, bukahkah hasilnya jauh lebih baik dari yang memilih untuk pergi?

FC Barcelona’s Lionel Messi, from Argentina, holds up his Ballon d’Or (Golden Ball) award as European Footballer of the Year prior the Spanish La Liga soccer match between FC Barcelona and Athletic Bilbao at the Camp Nou stadium in Barcelona, Spain, Sunday, Jan. 17, 2016. (AP Photo/Manu Fernandez) via i.dailymail.co.uk

Perlu bukti bahwa memilih untuk tetap berada pada zona nyaman itu sebenarnya hal yang positif? Lihat saja Walt Disney, meski pernah ditolak berkali-kali dan dianggap sebagai orang yang tak memiliki bakat menggambar, namun ia tetap tak bergeming dengan hal ia cintai itu. Kenyamanan yang ia rasa dari pekerjaannya membuatnya sukses di bidang tersebut. Pun demikian dengan Lionel Messi. Siapa bilang ia tak sedang berada dalam zona nyamannya di dunia sepak bola? Lihat betapa suksesnya dia sekarang. Kamu tak perlu meragukan efek zona nyaman dalam pekerjaan!

“Justru karena kamu sudah berada pada zona nyaman, kamu pun akan bekerja dengan hati. Bukan malah bermalasan seperti yang dituduhkan orang-orang.”

Tak mudah untuk menemukan kenyamanan. Tidak semua orang bisa menemukan zona nyaman mereka. Ada banyak orang yang bahkan sampai tua, masih saja belum menemukan titik nyaman pekerjaannya. Nah kamu yang sudah menemukan zona nyaman, kenapa harus kamu tinggalkan?

Suka artikel ini? Yuk follow Hipwee di mig.me!