Sebelum saya berangkat untuk menjadi dokter PTT ke Teluk Bintuni, Papua Barat, banyak pihak yang mengkhawatirkan kondisi kesehatan saya di sana, terutama karena ada isu yang sudah beredar di tengah masyarakat bahwa di Papua banyak malaria. Pihak-pihak ini bahkan termasuk rekan-rekan sesama dokter yang belum pernah ke daerah endemis malaria, sehingga tidak familiar dengan terapi malaria terbaru. Mereka semua menyarankan untuk minum obat pencegahan sebelum ke sana.

Saya sendiri tidak terpikir soal malaria ketika hendak berangkat ke sana. Pertama karena pikiran saya sudah dipenuhi oleh hal-hal lain seputar persiapan saya berangkat. Kedua karena pada dasarnya saya orang yang sangat tidak suka minum obat (benar sekali, ada dokter yang hanya suka menyuruh orang minum obat, tetapi dirinya sendiri tidak suka minum obat). Ketiga karena sudah ada informasi sebelumnya dari Kepala Bidang Pelayanan Medis dari Dinas Kesehatan setempat, bahwa sudah ada terapi malaria yang terbaru yang sudah cukup ampuh dan sederhana dibandingkan harus meminum obat pencegahan, yang selain jumlahnya cukup banyak dan rumit cara meminumnya, juga sebenarnya tidak terlalu ampuh lagi.

Sesampainya di Teluk Bintuni, saya menyadari kenyataan ini, bahwa di Teluk Bintuni program eradikasi malaria telah sangat berhasil. Bahkan pada tahun 2012 saat saya ke sana, Bintuni meraih juara 1 program eradikasi malaria.

Hal ini dicapai karena kerja keras dari semua pihak dan dukungan dari perusahaan British Petroleum (BP) yang mempunyai markas di sana. Mereka dengan teliti mencatat semua pasien malaria, memberikan terapi yang sesuai, melakukan follow up terus-menerus, sampai malaria di daerah Bintuni bisa dikatakan nihil. Seandainya pun ada pasien malaria, hampir dapat dipastikan bahwa pasien tersebut adalah pendatang dari daerah lain.

Selama saya bekerja di RSUD Teluk Bintuni maupun di puskesmas pun, saya hanya pernah mendapati 2 pasien malaria, yang semuanya adalah pendatang dari kabupaten lain. Setelah saya selesai PTT di Teluk Bintuni, saya pindah kerja ke Waingapu, NTT. Sudah hampir tidak ada yang mengingatkan saya soal malaria. Entah karena sudah lega karena malaria kini ada obatnya, entah karena mereka tidak tahu kalau NTT juga adalah endemik malaria. Nyatanya, saya justru terkena malaria saat bekerja di Waingapu ini.

Advertisement

Malaria di NTT dalam kenyataannya sudah bermutasi menjadi jauh berbeda dengan yang pernah saya pelajari saat kuliah. Tidak ada lagi gejala-gejala seperti menggigil-demam yang bersiklus-berkeringat. Hampir semua pasien malaria di NTT datang dengan keluhan pusing atau rasa tidak enak badan, pegal-pegal seperti masuk angin.

Kira-kira bulan keenam saya bekerja di sana, saya merasa tidak enak badan, badan terasa mudah lelah, kadang-kadang pusing. Kondisi ini berlangsung selama 2-3 hari, lalu saya memberanikan diri memeriksakan darah (benar sekali, ada dokter yang hanya suka menyuruh pasien periksa darah, tetapi dirinya sendiri takut jarum suntik). Ternyata terbukti, saya terkena malaria tropika. Dari beberapa jenis malaria, hanya 2 yang endemik di Waingapu yaitu malaria tropika yang disebabkan oleh Plasmodium falciparum dan malaria tertiana yang disebabkan oleh Plasmodium vivax.

Di NTT, terapi malaria masih banyak menggunakan infus kina dan obat minum primakuin. Tetapi saat saya terkena malaria, saya langsung mengambil obat terbaru dari pemerintah yaitu Artrakin (Dihidroartemisinin+Piperaquin) ditambah dengan Primakuin 3 butir di hari pertama meminum Artrakin.

Obat Artrakin adalah obat program dari pemerintah yang menurut saya istimewa karena kemasannya praktis. Selain itu, sudah dilengkapi juga dengan panduan meminum obat sesuai berat badan. Obat hanya diminum selama 3 hari dan harganya gratis, bisa ambil di puskesmas, setelah mengisi data-data untuk pencatatan tentunya.

Saya tidak mengalami gejala demam sama sekali, saya hanya merasa tidak enak badan. Seakan-akan diri saya ini bukan dikendalikan oleh saya lagi.

Saya merasa mudah lelah, tetapi bila saya berbaring saya tidak bisa tidur. Saya merasa masih bisa melawan rasa lemas badan ini, tetapi bila dipaksakan bekerja, untuk naik tangga pendek saja rasanya sudah mau putus nafas. Perut sering keroncongan mudah lapar, tetapi saat sendok pertama masuk ke mulut, langsung ingin muntah. Obat yang saya minum rasanya pahit sekali, tetapi saat hari terakhir minum obat, saya sudah merasa segar seperti sedia kala lagi dan sampai detik ini, tidak pernah relaps atau terulang lagi.

Penyakit malaria tetap masih semengerikan dahulu, meskipun gejala-gejalanya sudah berubah tetapi potensi komplikasinya masih tetap sama. Seseorang masih bisa meninggal atau kehilangan kewarasannya karena malaria. Tetapi, sekarang sudah ada terapi yang tepat dan program eradikasi dan pencegahan sudah diupayakan semaksimal mungkin. Jadi, yang penting kita tetap waspada tetapi jangan terlalu khawatir, asal mendapatkan terapi yang tepat dan cepat. Semoga berhasil buat sahabat Hipwee yang masih bolak-balik kena malaria dan salam sejahtera buat komunitas malarindu di tanah rantau!