Ephemeral #3 – Good Man

Ephemeral chapter 3

Pria asing yang ditemuinya di lift ternyata membantu Ivy mendapatkan pengobatan di rumah sakit dan juga mengurus putrinya. Namun, apa yang harus Ivy katakan ketika pria itu mulai bertanya-tanya tentang identitasnya? Sedang Ivy tak punya dokumen apa pun, tak jauh berbeda dengan imigran gelap yang masuk New York secara ilegal.
***

“Jangan panik, Ivy. Jangan pikirkan hal buruk. Mereka tidak akan melakukan hal buruk padamu jika kamu tidak melakukan hal buruk juga. Mereka hanya ada di situ untuk mengurusi urusan mereka sendiri. Kamu tidak akan mengalami apa-apa. Percayalah padaku. Tarik napas dalam-dalam. Tarik napas dan embuskan. Kamu bisa melakukan itu.”

Sejak pertama Oliver mengatakannya dulu, Ivy merasa dia sudah bisa mengendalikan diri. Bertahun-tahun sejak itu, Ivy sudah bisa bergaul dan tersenyum pada orang lain. Kata-kata Oliver seperti bisikan dalam telinganya, menuntunnya untuk terus mengucapkan hal baik pada diri sendiri, mengatasi trauma dari masa kecilnya. 

Setiap dia merasa khawatir dan bingung, senyum Oliver yang membuatnya merasa jadi lebih baik. Senyum itu selalu nampak setiap dia memejamkan mata. Wajah tampan Oliver yang dulu dia sebut aneh karena bentuk rahangnya yang terlalu menyudut dan dagunya yang terlalu panjang selalu berhasil membuatnya merasa lebih baik. Tidak hari ini. Tidak saat Ivy mengerang di tempat tidur ruang gawat darurat rumah sakit. Dia tidak bisa membayangkan sedikit pun wajah Oliver. Dia juga tidak mau melakukannya. Seluruh sendinya membenci Oliver yang memaksanya mengalami semua ini. Seharusnya, dia tidak merasakan semua ini. Seharusnya dia tetap berada di rumahnya. 

Oliver dalam benak Ivy | ilustrasi: Hipwee via www.hipwee.com

‘Semua ini salah Oliver,’ batinnya saat menangisi kakinya yang terasa panas.

“Anakku … anakku …,” bisik Ivy yang sedang ditangani oleh beberapa perawat sekaligus.

“Dia aman, Ma’am. Dia bersama perawat lain. Tidak ada yang parah. Kamu melindunginya. Sekarang, izinkan kami menyembuhkanmu, Sayang.”

Perawat gemuk berkulit gelap itu membelai kepalanya, membuat Ivy merasa diperhatikan. Dia mengingat ibunya, juga semua orang baik yang ditinggalkannya di Jakarta. Saat perawat itu memberikan masker gas untuk membiusnya, Ivy berbisik pada dirinya sendiri, “Seharusnya aku nggak meninggalkan mereka. Harusnya mereka nggak kutukarkan dengan seekor Oliver.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Penulis yang telah menghasilkan lebih dari 30 judul karya ini masih berusaha menjadi orang baik. Kalau bertemu dengannya di media sosial, jangan lupa tepuk bahunya dan ingatkan kalau dia juga butuh pelukan.

Editor

Penikmat kopi dan aktivis imajinasi