Meski katanya persatuan itu adalah hal yang bagus, manusia memang fitrahnya suka membeda-bedakan. Membedakan dari asal kelahiran, membedakan ras dan agama, sampai membeda-bedakan antara cowok dan cewek. Sebenarnya hal ini wajar, tapi kalau sesuai fakta dan berdasar, kalau cuma berlatar belakang asumsi dan kepantasan, kayaknya perlu belajar soal stereotip deh.

Seperti cowok satu ini, lewat akun Instagram-nya @ARHuseinov, dia mengunggah fotonya ketikan mengenakan masker wajah karena dia ingin mengobati jerawatnya. Meski maskeran memang identik dengan perawatan skincare ala cewek-cewek, bukan berarti masker dilarang buat cowok dong. Bahkan kalau ada masker ‘for men’, itu hanya trik marketing. Nah, warganet yang kelewat sinis justru melontarkan kritik kepada pengunggah. Kalau dibaca lagi dan lagi, kritikan ini justru makin kocak. Simak dulu uraian Hipwee Hiburan berikut!

Awalnya maskeran buat mengobati jerawat. Follower-nya justru melontarkan kritikan yang kocak

Hanya karena maskeran bisa mengubah orientasi seksual? via twitter.com

Advertisement

Melalui sebuah akun Twitter @bulbaseinov, pemilik akun Instagram @ARHuseinov mengunggah konten yang menurutnya sangat menggelitik. Berawal dari Instastory yang menunjukkan wajahnya dilumuri masker jerawat, warganet di Instagram justru mengiriminya banyak DM berupa kritikan. Alasannya pun cukup menggelikan. Tweet ini kemudian banyak di-retweet dan mendapat respon yang beragam. Kebanyakan sih tertawa geli. 😀

Menurut warganet, masker-masker wanita itu sudah diisi oleh hormon perempuan, DNA perempuan, hingga menurutnya perbuatan ini akan dilaknat

Antara kocak dan miris… via twitter.com

Selain karena hormon dan DNA perempuan itu pasti sangat mahal kalau dimasukkan ke dalam masker, penggunaan dengan mengoleskannya nggak akan menularkan apa-apa. Perbuatan maskeran juga termasuk bersih-bersih dan merawat kulit aja kok, nggak lebih. Kalau tujuannya baik dan nggak merugikan orang lain, kenapa dilarang, bahkan dilaknat? -__-

Dokter estetika saja sampai nggak bisa berkata apa-apa. Eh, beberapa warganet masih ‘mengatai’ balik. Lo, ini yang dokter yang mana, ya?

Dokternya dibungkam seklai sleeding. via twitter.com

Salah satu dokter estetika yang kebetulan juga follower @ARHuseinov ikut menyumbangkan ‘tawa’ terhadap komentar-komentar warganet. Tentu saja nggak perlu menjelaskan kandungan maskernya buat pembelaan, kan? Karena menyalahkan masker sebagai penyebab LGBT dan orientasi seksual itu sungguh nggak logis dan nggak bisa diputarbalikkan begini faktanya. Namun yang lebih mengejutkan justru kritik warganet yang menyuruh dokternya itu belajar lagi. Jadi pusing, kan, sampai yang ahli saja disalahkan? Hmm ….

Meski begitu, ada yang berbaik hati memberikan saran kok. Meskipun sarannya juga cukup bikin tergelak! 😀

Mendingan beli yang bersih dan berBPOM dong… 🙁 via twitter.com

Advertisement

Mulai dari diberi saran, cukup doa dan air wudu, hingga air cucian beras dan air mani, jadi rekomendasi top warganet. Memang pilihan masing-masing sih untuk menggunakan perawatan dengan yang alami atau yang kimiawi. Tapi bukan berarti pakai racikan kimiawi itu dilarang. Justru pakai masker bungkusan itu lebih logis daripada maskeran pakai air mani. Tolong jangan dibayangkan, Guys!

Mengkritik tentu boleh, tapi perlu ada alasan yang kuat. Secara logis, masker, sabun cuci muka, sabun, dan berbagai perawatan kimia lainnya itu bebas dipakai buat siapa pun

Padahal yang dipakai oleh @ARHuseinov ini lo, masker buat pria. via twitter.com

Masker wajah tentu hanyalah satu dari sekian macam perawatan yang banyak dipakai masyarakat. Kalau yang dipermasalahkan adalah kandungan bahan kimianya, tentu masih bisa didiskusikan lagi. Tapi kalau yang dibicarakan efek jangka panjang, sampai bikin LGBT, bikin pengguna jadi bersikap layaknya cewek, tentu di luar konteks. Bagaimana bisa kita menilai perilaku seseorang hanya dengan perawatan berbahan kimia yang dia gunakan? Kalau perilaku bisa diindikasi cukup dengan bahan kimia, mungkin semua orang sudah minum obat penyembuh kejahatan biar nggak ada lagi kriminalitas.

Perbedaan pendapat, mana yang benar, dan mana yang salah, memang nggak punya pakem tersendiri, makanya wajar saja kalau memang ada beda pandangan satu orang dengan yang lain. Namun, dalam memberikan kritik dan saran, tentu kita perlu memperhatikan konteks dan latar belakang tentang apa yang terjadi. Semakin kita menuhankan kepercayaan diri kita tentang mana yang benar, justru makin sesat nantinya. Bertahun-tahun lamanya banyak cowok pakai sabun kecantikan dan sampo khusus hijabers, mereka lurus-lurus saja, kan? 😀

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya