Belum lama ini kasus Ospek di suatu universitas di Ternate jadi sorotan, lantaran para senior yang bersikap berlebihan kepada mahasiswa baru. Video perploncoan mereka pun viral di media sosial dan bikin geram hampir sebagian besar orang. Banyak yang berpendapat kalau Ospek memang nggak perlu segitunya sampai menyiksa para mahasiswa baru.

Sebaliknya, ada beberapa orang yang kemudian berpendapat bahwa Ospek perlu dilakukan untuk pembentukan karakter dan ketahanan mental. Bahkan nggak jarang juga yang merasa kalau Ospek itu, ya, harus ‘disiplin’. Kali ini Hipwee Boys bakal mengajakmu membahas bareng perkara ini. Mari kita lihat masalahnya dari dua sudut pandang berbeda.

Mereka yang mengecam Ospek ‘aneh-aneh’ punya alasan jelas, bahwa nggak seharusnya pengenalan kegiatan kampus dibuat semengerikan itu

Hmm, sebel, ya! via www.tribunnews.com

Advertisement

Kasus yang terjadi di salah satu universitas di Ternate memang jadi contoh bagaimana warganet merespons soal Ospek. Sebagian besar mutlak nggak setuju dengan adanya Ospek yang seolah mempermalukan mahasiswanya ini. Bahkan, ada juga video yang beredar tentang bagaimana mahasiswa baru saling bertukar minuman, nggak perlu dideskripsikan deh, terlalu nggak pantas. Tentu dari situlah banyak yang berpendapat kegiatan tersebut nggak manusiawi dan cenderung ke arah penyiksaan. Makanya nggak jarang yang protes.

Berbagai wacana ini kemudian membuat rektor universitas tersebut menskors mahasiswa bersangkutan selama beberapa semester. Katanya sih, Ospek semacam itu memang berlebihan dan nggak sesuai dengan apa yang diinstruksikan pihak kampus.

Tapi jangan lalu senang, ternyata masih banyak yang berpikir bahwa bentuk perploncoan dalam Ospek itu wajar. Pembentukan mental, katanya. Apa benar?

Nama disamarkan, ya, Guys! via twitter.com

Beberapa orang menganggap pemberitaan tentang Ospek ini tergolong lebay. Katanya sudah sewajarnya mahasiwa dididik untuk kuat mental. Sekuat baja gitu kali, ya? Bahkan ada juga yang mengaku kalau dia pernah mengalami Ospek lebih parah dari video yang lagi viral. Bahkan stigma Ospek ‘aneh-aneh’ begini sudah mengarah ke salah satu fakultas tertentu. Bisa jadi, memang banyak yang bangga setelah berhasil melewati sebuah Ospek yang penuh perploncoan. Makanya, tradisi ini kembali diteruskan. Nggak salah kok kalau memang ada yang berpendapat begini. Secara sudut pandang, orang memang diciptakan berbeda kok. Tapi wajarnya gimana sih?

Ospek lebih baik dikembalikan pada tujuan dan fungsinya. Tradisi dan kebiasaan bukan sebuah dalih pembenaran atas perploncoan berlebihan, apalagi mitos soal pembentukan mental

Ospeknya latihan berwirausaha. via www.risd.edu

Advertisement

Mudah saja buat menilai perploncoan itu sebenarnya diperlukan atau nggak sih? Kembali lagi ke bagaimana fungsi dan tujuan Ospek diselenggarakan. Kebanyakan universitas menjalankan program Ospek untuk pengenalan dan pembiasaan mahasiswa dengan kehidupan di kampus. Kegiatan di kampus, kan, belajar dan berorganisasi. Nah, tentu kalau soal minum air yang habis dikumur-kumur sama teman nggak ada hubungannya dengan adaptasi perkuliahan dong?

Soal pembentukan mental, sebenarnya cara perploncoan justru nggak tepat lo, Guys. Kalau nggak percaya, tanyain ahli psikologi deh. Secara psikis perploncoan justru menciptakan karakter yang cenderung tertutup, pendendam, pesimis, dan nggak percaya diri. Bagi mereka yang nggak bisa sintas, perploncoan jelas menimbulkan trauma. Jadi, mental manakah yang sebenarnya ditargetkan untuk dibentuk? Kalau ini masalah kebiasaan kampus, apakah sewajib itu untuk dipertahankan? Harusnya kita bersiap move on kalau selama ini kebiasaan yang kita lakukan adalah kebiasaan yang buruk.

Sebenarnya banyak cara lain yang dilakukan untuk orientasi mahasiswa baru. Beberapa universitas di luar negeri seperti Singapura misalnya, memilih Ospek dengan cara menugaskan mahasiswanya utuk membuat orang lain bahagia. Cara ini bahkan sempat viral pada media 2015-an lo. Orientasi mahasiswa dengan konsep fun and learning bisa lebih berkesan dan membuat mahasiswa baru menghormati senior tanpa harus ada unsur pemaksaan.

Advertisement
loading...

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya