Yang Disimpan oleh Waktu – Chapter 3

yang disimpan oleh waktu chapter 3

JANUARI 2015

“Ngapain kamu ngajakin orang itu ke Solbean?”

Aku yang tengah mengetik di laptop mendongak. Egi memandangku dengan ekspresi kesal.

“Orang itu?” tanyaku tak mengerti.

“Gegas,” jawabnya dengan sedikit tak rela, seolah-olah mengucapkan nama itu membuat level stresnya langsung melonjak di titik maksimum.

Aku bergumam ‘oh’. “Ya memang kenapa? Udah lama kita nggak ketemu, kan?”

Egi mendengkus. “Aku nggak suka kamu masih kontak-kontakan sama dia, Tara.”

Kali ini sebelah alisku mencuat naik. “Kenapa?” tanyaku bingung.

Tidak biasanya Egi membatasi ruang gerakku. Apalagi, melarangku bergaul dengan seseorang. Lagipula, ini kan Gegas? Sahabatnya juga?

Menyadari sikapnya yang mungkin aneh, Egi berdeham sembari menggaruk kepalanya.

“Sebenarnya begini, hubunganku sama Gegas nggak bagus. Jadi, kalau kita ketemu bertiga yang ada malah bakal awkward. Ya, kan?”

Aku berpikir sebentar. Lalu, kutaruh laptopku di meja dan aku beranjak mendekati Egi.

“Sebenarnya ada apa? Kenapa kalian jadi musuhan begini?” Tanyaku. “Kalau ada masalah kan harusnya bisa dibicarakan. Kamu sendiri paling kenal Gegas, Gi. Dia orang baik, kan? Pasti bisa diajak ngomong secara dewasa.”

“Orang baik kata kamu?” Egi memasang ekspresi sinis. “Pengkhianat itu selalu merasa dia yang paling benar sedunia. Semua salah, yang benar dia doang.”

Aku tertegun. Baru kali ini aku melihat Egi merespons sesuatu dengan kebencian yang terlalu terang-terangan.

***

Berkebalikan dengan Egi, Gegas adalah pria yang sedikit murung. Bukan murung dalam artian memendam kebencian pada dunia, melainkan pembawaannya memang demikian. Bicara secukupnya. Tertawa secukupnya. Tersenyum secukupnya. Gegas mungkin adalah orang paling hemat sedunia yang tak membuang-buang energinya secara berlebihan.

Jika Egi adalah lampu pesta, maka Gegas adalah sayup-sayup musik pengiring yang menenangkan tetapi juga bisa menghanyutkan. Dengan Gegas, orang akan sulit membuka pembicaraan. Namun, sekalinya terjalin obrolan, bisa berlangsung semalaman. Orang itu definisi ensiklopedia berjalan yang nyambung diajak ngobrol apa saja.

Mengingat Gegas membuatku harus membuka memoriku tiga tahun ke belakang. Terakhir kali aku bertemu dengannya adalah awal tahun 2015 lalu. Itu juga bukan pertemuan yang disengaja karena kami berjumpa di bandara. Gegas bahkan tidak berhenti untuk bertanya kabar. Entah dia sedang sibuk atau memang menghindar.

Sama seperti namanya, Gegas selalu bergegas. Namun, itu bukan jenis terburu-buru seperti yang aku dan Egi lakukan setiap hari. Bermacet-macet ria di jalan, lembur kejar setoran demi bonus bulanan, dan segala rutinitas yang membosankan lainnya. Itu benar-benar ‘nggak Gegas banget’. Bergegas dalam versi Gegas adalah ide-ide yang berjubelan di kepalanya. Gegas selalu punya rencana dan juga cara untuk mewujudkannya. Sejak SMA, dia selalu didapuk menjadi konseptor jika ada acara-acara yang membutuhkan koordinasi bersama. Setelah lulus kuliah pun, Gegas membuka banyak usaha. Mulai dari travel agent hingga membuka sanctuary hewan, Gegas seolah tak pernah kelelahan.

“Gue nggak tahu sih, Ra. Udah nggak nyimpen nomor Gegas. Nggak pernah ketemu juga,” kata Sari, salah satu teman kuliah kami, saat aku menanyakan kontak terbaru Gegas. “Emang lo nggak pernah ketemu juga, Ra?”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Penikmat kopi dan aktivis imajinasi