Yang Disimpan oleh Waktu – Chapter 5

yang disimpan oleh waktu chapter 5

JANUARI 2018

“Gi, pernah nggak sih kamu tertarik sama orang lain pas udah sama aku?”

Egi yang tengah menyimak jalannya MotoGP di TV sontak menoleh padaku yang duduk di sebelahnya, menyandarkan kepalaku di pundaknya.

“Kenapa tiba-tiba nanya begitu, sih?” tanya Egi heran.

“Kepo aja.” Aku mengedikkan bahu. “Mungkin kamu pernah lihat cewek di kantor, terus kamu mikir ‘Gila, cantik banget nih cewek!’ Terus kamu jadi suka curi-curi pandang ke dia.”

Egi tertawa. “Aneh-aneh aja, sih?”

“Ih, serius nih. Pernah nggak?” kejarku.

“Ya sering. Banyak cewek cantik ke kantor. Bosku aja cantiknya kayak Angelina Jolie.”

Sontak aku menegakkan leherku. “Yang benar?”

“Iyaaa. Yang cantik banyak, tapi yang pengin aku lihat mukanya pas bangun tidur cuma kamu. Yang pengin aku ajak pusing mikirin pendidikan anak-anak ya cuma kamu.”

Aku membuat gestur ingin muntah. “Bokis banget!”

***

Aku ingat sekali kata-kata di surat terakhir Egi untuk Seruni. Kadang ada hal-hal yang nggak perlu diucapkan untuk melindungi hati seseorang. Aku ingin memodifikasinya sedikit. Terkadang, kita tidak perlu tahu semua hal, karena kadang ada hal-hal yang memang sebaiknya tidak kita ketahui.

Bagaimana rasanya mengetahui bahwa tanpa kamu sadari kamu telah melakukan kesalahan dan mungkin menyakiti seseorang? Bagaimana rasanya mengetahui bahwa ternyata kamu adalah penjahatnya?

“Egi dan Seruni ketemu waktu Egi magang di sela-sela skripsi dulu. Mereka jadian nggak lama setelah kita lulus.”

Aku terdiam. Seluruh indraku bekerja untuk menyimak cerita dari Gegas, tetapi pikiranku menolak memberikan respons apa pun atas informasi yang kuterima.

“Hubungan mereka memang agak complicated. Almarhum Tante Saleha nggak pernah setuju. Lo tahu, kan, segimana protektifnya Tante Saleha soal Egi? Nah, Seruni punya latar belakang yang … rumit,” kata Gegas, bingung mencari kata yang tepat. “Dia lahir di lingkungan yang menurut Tante Saleha kurang baik.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Penikmat kopi dan aktivis imajinasi