Bagaimana ya rasanya nikah muda? Pengen sih….

Bibir saya mengulum menahan senyum, saat ingat kalimat yang pernah terlintas di usia menginjak 20 tahunan. Rasanya dulu saya penasaran sekali dengan urusan pernikahan. Banyak hal yang saya pertanyakan, mulai dari yang remeh seperti rasanya menikah lalu punya keluarga kecil sendiri, sampai yang paling krusial seperti mengurus anak dan suami. Sempat merasa takut, jujur saya takut jika tak bisa menjadi pasangan serta orangtua yang baik. Tapi lagi-lagi penasaran membuat saya berkata ke diri sendiri, “Aku pengen nikah muda deh…. Umur 23 atau 24 mungkin,”.

Meski kenyataannya, di usia itu saya masih belum punya gambaran soal pasangan yang tepat. Saya masih sibuk mencari. Saya juga masih memikirkan urusan karir yang belum memenuhi kemapanan hati atau pun materi. Sampai urusan masa lalu dan pembenahan diri yang masih belum selesai. Alhasil cita-cita nikah muda seperti ingin memberontak. Apalagi saat melihat teman yang mantap melangkah pelaminan. Rasanya pertanyaan “Kapan nikah?” yang mulai muncul semakin mendapat dukungan. Dan memaksa saya menjawab, “Tahun depan, doain aja ya….”

Iya, dulu memang ada rasa ingin nikah cepat-cepat. Tak peduli pasangannya saja belum dapat, atau karir masih terasa belum tepat. Tapi sekarang, saat membicarakan nikah saya hanya senyum dan bilang “Iya, nanti,”. Tak ambil pusing dengan komentar orang. Sebab di titik ini saya tersadar, nikah memang wajib dan saya pun masih ingin, tapi bukankah semua ada waktunya?

Sekalipun tahu dia baik dan serius, saya tak lantas memenuhi pikiran dengan urusan nikah terus

pikiran kalian penuh dengan hal yang lainnya juga via www.nessakphotography.com

Advertisement

Saya tak juga menikah di usia yang lewat 25 tahun ini bukan karena belum punya pasangan. Saya punya, dan merasa yakin jika dia orang yang tepat yang selama ini dicari. Bukannya kelewat percaya diri, tapi memang sosoknya terasa berbeda dari sekian banyak cowok yang pernah saya temui. Dia tak hanya berusaha memperlakukan saya dengan baik, tapi dia juga selalu menunjukkan keseriusan yang tak sekadar janji-janji manis. Entah dari gesturnya, dari pemilihan obrolan, atau sikapnya saat-saat menghadapi kesalahpaham.

Tapi bertemu dia bukan berarti membuat saya semakin ingin terburu-buru menikah. Justru kehadiran dia seperti titik balik yang membuat saya harus berpikir ulang, jika di hidup ini masih banyak hal lain yang perlu dipikirkan. Bukan soal diri saya saja, tapi juga dia. Belum lagi hal-hal yang muncul di luar perkiraan. Toh nyatanya semakin memikirkan urusan “kapan menikah” justru membuat saya merasa tertekan. Membuat saya semakin tak sabaran, dan egois.

Jadi saat ini cukup lah tahu keseriusan dia, sementara urusan menikah biar mengalir dengan sendirinya.

Bukan tak siap nikah, tapi saya sadar saat ini kita punya tanggung jawab lain yang harus didahulukan

tanggung jawab aku atau dia tak hanya urusan nikah via www.nessakphotography.com

Nunggu apa lagi sih? Nikah nunggu siap, yang ada bakal nggak nikah-nikah. Nikah tuh juga butuh nekat!

Saya kadang menanggapi ucapan-ucapan itu dengan datar, sinis, bahkan terkadang hanya tertawa getir. Bukannya tak suka dengan pandangan itu, tapi saya merasa setiap orang punya alasan sendiri. Alasan yang terkadang orang lain terlalu sok tahu, lalu seenaknya menyamaratakan. Malah kadang ada yang menganggap saya salah karena menunda pernikahan.

Saya menarik nafas berat dan panjang, sepertinya memang harus diluruskan lagi. Bahwa saya belum juga menikah sampai detik ini bukan karena sengaja menunda. Orang lain tak pernah tahu, jika setiap orang punya tanggung jawab lain yang harus didahulukan selain urusan pernikahan. Bisa jadi tanggung jawab ke keluarganya seperti membiayai adiknya, atau mungkin menyelesaikan studi S2-nya. Bukannya tak yakin jika melakukannya barengan, tapi bukankah memaksakan diri pun bukan keputusan yang baik?

Toh biarpun santai, kita tetap jalani hubungan dengan rencana. Tak muluk-muluk yang penting bisa berkembang bersama

Yang-penting bisa bersama dan terus berkembang via www.nessakphotography.com

Karena yang santai bukan berarti tak serius dan tak memiliki rencana.

Diam-diam saya dan dia tak hanya berbagi harapan atau mimpi saja. Ada kalanya kita menceritakan rencana masing-masing, saling bertukar pendapat, bahkan sampai kesepakatan demi kenyamanan bersama. Tapi rencana yang kita buat ini pun bukan yang muluk-muluk seperti kira-kira kapan pastinya kita akan menikah? Buat saya dan dia rencana yang kita buat sesederhana keinginan saya menjadi ibu rumah tangga yang punya karir fleksibel. Atau dia yang ingin tinggal di kota A, lalu bertanya kesediaan saya untuk pindah ke sana.

Orang boleh berpikir rencana itu biasa atau terlalu ngambang. Tapi buat saya atau pun dia rencana-rencana itu salah satu bukti jika kita menjalani hubungan dengan serius dan tak sekadar senang-senang.

Sebab menikah juga butuh persiapan, tak bisa terburu-buru apalagi dipaksakan

persiapan nikah dan berumah tangga via www.nessakphotography.com

Coba pikirkan lagi soal biaya pernikahan? Bahkan sekadar akad nikah saja perlu biaya yang tak hanya seratus ribu rupiah. Belum lagi kehidupan setelah nikah nanti, ‘kan tak mungkin jika saya dan dia masih bergantung dengan orangtua. Orang bisa saja bilang, nanti setelah nikah pasti akan ada rezekinya sendiri. Buat saya terserah orang mau bilang apa. Tapi yang pasti buat saya nikah tetap butuh persiapan dan tak bisa dipaksakan apalagi sampai diburu-buru.

Nikah bukan lari maraton yang siapa cepat dia yang keluar jadi juara. Nikah itu momen di mana niatmu dan dia diamini Tuhan juga semesta.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya