Perjalananku Mencari Jati Diri Ketika Quarter Life Crisis. Tak Perlu Tergesa, Nikmati Prosesnya

Perjalanan quarter life crisis

Dulu, saat masih naif, saya sempat berpikir, apa sih yang perlu ditakutkan dari kehidupan orang dewasa?. Waktu itu, saya sinis dengan orang-orang mengeluhkan hidup ketika mulai memasuki fase kedewasaan. Terkadang mereka mendamba masa-masa silam yang terasa lebih ringan dan menyenangkan.

Advertisement

Bukankah enak jadi orang dewasa? Bagi orang sekitar, saya dianggap sudah mampu untuk bertanggung jawab pada diri sendiri sepenuhnya. Bayang-bayang punya penghasilan dan pekerjaan idaman pun terlintas begitu indah di benak. Menjadi dewasa adalah selangkah lagi menuju semua impian-impian, begitulah yang saya pikirkan.

Menginjak usia 23 tahun, saya menyesal telah memandang miring mereka yang hidupnya tampak jungkir balik ketika menjelang usia seperempat abad. Awalnya, saya cukup pede menapaki kehidupan selepas kuliah. Sayangnya, saya dihantam sebuah fase aneh dan asing, yang saya namai lorong gelap. Sementara  bagi kebanyakan orang, inilah fase quarter life crisis, yang kerap jadi momok kala beranjak dewasa.

Nah, ini perjalananku yang sempat merasa kehilangan arah sampai akhirnya menemukan jati diri ketika menghadapi quarter life crisis.

Advertisement

Impian berkali-kali dibenturkan dengan kenyataan. Beragam krisis menyerang sampai bikin kehidupan terpuruk di titik dasar

Ketika qarter life crisis melanda hidup | Photo by RODNAE Productions on Pexels

Sebetulnya, saya cukup songong dua tahun silam. Ketika obrolan soal quarter life crisis sudah mulai jadi bahasan utama dengan teman-teman, saya masih yakin menghadapinya dengan tegar. Eh, dasar saya memang jemawa, ya. Ketika fase itu datang, dunia saya bagai dihantam batu besar dan semuanya porak-poranda. Hidup yang semula tampak seru berubah jadi pilu.

Fase ini menyapa hidup saya dengan lihai sekali. Saya tidak tahu kapan mulanya semua terjadi, tapi satu per satu masalah yang tak terbayangkan muncul. Masalah lahir dari benturan-benturan antara impian dan kenyataan. Ternyata, keduanya tidak selaras dan mendesak saya untuk mengambil banyak keputusan rumit dan perubahan sulit, termasuk perubahan yang tidak saya inginkan sama sekali.

Dapatkah kamu menebak apa yang terjadi selanjutnya? Ya, impian, realitas, dan keinginan hati yang terus berseberangan akhirnya menciptakan beragam krisis dalam hidup. Periode ini membuat saya merasakan emosi tak nyaman, seperti kesedihan, kecemasan, kebingungan, ketakutan, kegagalan, sampai keraguan pada diri sendiri. Intinya sih, saya galau parah yang berujung di titik hidup terendah.

Advertisement

Diawali dengan hancurnya relasi romantis yang berujung depresi. Pandangan soal hubungan dan komitmen harus mulai ditata kembali

Menghadapi krisis emosional setelah putus cinta | Photo by Kelly Sikkema on Unsplash

Ngomongin soal relasi romantis di usia beranjak dewasa, tentu banyak anak muda mulai memikirkan tentang pernikahan, termasuk saya. Hubungan pacaran bukan lagi main-main. Namun, perjalanan asmara saya sepertinya masih panjang. Pasalnya, hubungan terakhir saya justru berakhir buruk dan menjadi salah satu pemicu krisis hidup.

Tanpa disadari, saya dan mantan pasangan terjebak dalam relasi beracun. Dampaknya, baik saya maupun dia harus terluka secara mental dan emosional. Bahkan, saya mengalami depresi. Setelah kami memutuskan berpisah, saya harus merampungkan banyak PR untuk pulih.  Kesembuhan diri menjadi keharusan bila saya tidak ingin terjerat pola hubungan toxic lagi.

Pengalaman putus yang amat menyakitkan memang mengubah banyak hal. Pandangan saya soal hubungan dan komitmen runtuh seketika. Saya mulai mempertanyakan kembali makna hubungan, komitmen, dan pasangan. Mindset yang dulu dipegang harus saya negosiasikan lagi dengan diri sendiri. Sosok pasangan seperti apa sih yang cocok untuk saya, misalnya.

Berpisah dengan teman-teman dekat. Untuk pertama kalinya merasakan kesepian akut, padahal dulu seolah tak pernah takut dengan kesendirian

Merasa kesepian karena teman semakin sedikit | Photo by Helena Lopes on Unsplash

Semakin dewasa, semakin sedikit teman yang kita punya. Ungkapan tersebut ternyata benar. Tak perlu menunggu lama, saya harus berpisah dengan banyak teman kuliah setelah mendapatkan kerja. Terpisah jarak yang jauh, kami cuma bisa menjalin komunikasi lewat ponsel. Itu pun tidak intens karena kami sibuk dengan pekerjaan masing-masing.

Pertemanan di tempat baru nyatanya lebih bersifat formalitas alias sebatas urusan kerjaan. Inilah pertama kalinya saya merasakan kesepian. Sebagai cewek yang senang merantau dan tidak suka bergantung pada orang lain, hidup sendiri bukan hal yang sulit. Apalagi, saya terbiasa melakukan apa-apa seorang diri.

Tapi, saya mulai didera kesepian. Rasanya seperti tidak ada satu pun orang yang memahami saya. Tidak ada tempat untuk berbagi cerita.

Pekerjaan impian dan penghasilan yang nggak sesuai ekspektasi. Kehilangan arah sampai mempertanyakan, “Siapa aku ini?”

Kegalauan menghadapi quarter life crisis | Illustration by Hipwee

Perjalanan saya masih terus berlanjut, menghadapi keresahan lain yang biasanya muncul saat quarter life crisis, yakni soal pekerjaan. Bisa dikatakan, saya berusaha keras untuk enjoy dengan pekerjaan pertama. Jujur, pekerjaan itu tak sejalan dengan passion saya. Tapi, saya perlu pekerjaan itu untuk membiayai kebutuhan sehari-hari.

Di masa ini, saya merasa semakin terpuruk. Rasanya hari-hari berjalan lamban dan suram. Saya nggak bisa mengatakan bahagia sepenuhnya. Ada kehampaan tak terjelaskan yang mengisi dada. Bahkan, saya mulai terus menanyakan perihal siapa saya ini dan apa yang sudah saya capai. Sementara itu, ada desakan dari dalam diri dan orang lain: saya harus jadi ‘orang’ dan punya ini-itu di umur tertentu.

Berjalan di lorong gelap dan panjang yang bernama quarter life crisis. Pelajaran tentang kesabaran dan kekuatan untuk menemukan diri sendiri lagi, tanpa terburu-buru

Akhir pencarian jati diri menghadapi quarter life crisis | Photo by Caroline Veronez on Unsplash

Semua masalah itu bak tamparan keras. Pertanyaan-pertanyaan yang semula tak terpikirkan pun jadi sumber kegalauan yang membuat saya asing dengan diri sendiri. Saya merasa tidak mengenali diri ini. Untuk menjawab pertanyaaan-pertanyaan tersebut, ibaratnya saya berjalan di lorong panjang nan gelap.

Ingin rasanya segera menemukan cahaya terang, tanda bahwa lorong ini sudah mencapai ujungnya. Namun, proses memang tak semudah perkiraan. Dan… menikmati proses yang sulit nyatanya bukan perkara gampang juga. Tidak ada jalan untuk berputar atau berhenti. Jika berhenti melewati proses ini, saya hanya akan terperangkap lebih lama dalam fase quarter life crisis.

Ya, meski dengan terseok-seok, saya akhirnya bisa mencapai ujung fase ini. Saya seperti menemukan diri sendiri lagi. Tak hanya itu, saya berhasil mencari jati diri yang sebenarnya, semakin jernih dalam memahami diri. Yang mana sebelumnya, saya masih tidak punya kesadaran diri yang cukup bagus.

Dalam proses ini, saya belajar untuk memakai kacamata kuda. Artinya, saya fokus pada diri sendiri dan tidak membandingkan diri dengan orang lain. Cara ini membantu saya untuk melewati quarter life crisis.

Cepat atau lambat, setiap orang akan menghadapi masa ini. Prosesnya memang tak menyenangkan sama sekali. Tapi, semoga kamu punya kekuatan untuk tidak berhenti, ya. Soalnya, ada perjalanan yang memang perlu kamu lalui. Di akhir perjalanan, kamu akan menemukan kejutan-kejutan hidup yang membuatmu merasa bahwa fase ini memang layak dijalani.

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

CLOSE