Saat dimana sama sekali aku tidak pernah memikirkan tentang perasaan, cinta dan embel-embel nya. Aku yang biasanya lebih memilih menghindari nya, memilih untuk tidak membayangkannya apalagi mencoba mengetahui seperti apa itu cinta.

Selepas kebersamaan kita menjadi anak SMP yang dikatakan selalu bikin kekacauan, aku lebih banyak mengisi waktuku meraih impian dan menemukan jati diriku, tak pernah terpikirkan oleh ku untuk merindukan seseorang. Hingga saat aku disadarkan olehmu untuk mengerti akan arti kehilangan dan merindukan sepenggal cerita yang sempat mengisi dan mewarnai hariku.

Kau yang menyadarkanku akan arti kehilangan moment hidup yang telah lama aku tinggalkan jauh dibelakangku.

Iya, kamulah orang yang berhasil membuatku merindukan sesosok pria selain Alm. Ayah dan kedua saudara laki-lakiku. Dimana sebelumnya aku bersikeras tidak mau mengerti persoalan cinta, apalagi terlibat didalamnya. Kurasa kamu tau alasannya, tau alasan bawa aku terlalu rapuh untuk disakiti. Ini juga alasan mengapa aku tidak mengerti seperti apa sikap kalian para pria bila sedang mendekati wanita.

Kamu adalah laki-laki yang mau mengalah terhadapku dan selalu mencariku.

Advertisement

Aku ingat beberapa hal tentangmu yang masih sangat kental diingatanku. Kamu adalah orang yang mau mengalah terhadapku dan terus menjahiliku. Kamu yang tak bosannya menjahiliku, dan tak bosannya menjadi temanku meski berkali pula kita berantam karena kejahilanmu. Beradu pendapat, saling menunggu disaat pulang sekolah demi ada teman jalan pulang, mencuri mangga dijalanan, tertawa haha-hihi dijalanan, kejar-kejaran, mendorongku dikolam renang dimana kamu tau aku tidak bisa berenang.

Moment yang hilang kembali dikala “kebetulan” mempertemukan kita lagi

“Kebetulan” kini aku akui memang ada, itu pertemuan kita setelah kita satu sama lain tidak mengetahui keberadaan masing-masing dan apa yang terjadi dengan masing-masing. “Kebetulan” memang sama sekali tidak mengijinkan kita untuk memiliki persiapan, bahkan persiapan cara menyapa yang ramah dan hangat setelah sekian lama tidak ketemu. Pertemuan itu sangat canggung dan kebanyakan kata yang keluar adalah “hmmm dan cengiran”. Namun, setelah kusadari kini justru itu pertemuan yang secara kebetulan sangat hangat.

Kamu hilang setelah mebuatku baper

Tidak disangka pertemuan yang secara kebetulan itu telah menjadi salah satu dari sekian alasanku untuk tinggalkan pendidikanku dipulau sebrang. Waktu terasa cepat, kedekatan kita kembali terpisah yang meninggalkan banyak sekali pertanyaan dalam kepalaku. Aku sendiri bingung virus apa yang sehebat itu yang mampu mengubah perhatianku yang tadinya hanya disibukkan oleh tugas-tugas sekolah. Tapi pada saat itu dimataku kamu berubah, kamu hilang setelah meluluhkanku entah itu baper atau bagaimana yang jelas nilaiku jauh turun ketimbang semester sebelumnya. Lalu, seketika kamu muncul di akun social media dengan status mejalani bangku perkuliahan dan kekepoanku membuat aku murung sendiri. Kekepoanku mengantarku melihatmu tertawa dengan wanita lain dimana itu adalah kekasihmu. Saat itu, aku tidak marah dan tidak menyalahkan siapapun. Aku mengkoreksi diri dan memilih diam, butuh waktu yang lama untukku mengumpulkan keberanian menanyakan apakah kedekatan kita waktu itu hanyalah kebaperanku saja ataukah ada semacam hal lain. Dan jawaban yang kusimpulkan darimu adalah “berteman baik”.

Aku memilih hilang untuk sekedar menyembuhkan lukaku.

Yah, aku memilih hilang untuk sekedar menyembuhkan lukaku untuk sekedar menenangkan perasaanku bahwa kita berteman baik tidak lebih, untuk sekedar menyadari bahwa akulah yang baper selama ini. Sekian banyak waktu, emosi, dan biaya yang kuhabiskan hanya untuk pengobatan luka dari pertemuan yang “kebetulan” itu lagi. Aku menyibukkan waktu dengan mengenal alam, berpantai ria, snorkeling padahal dulu melihat air di kolam renang dengan kedalaman 3 m saja sudah takut, nonton ria bareng teman atau nonton sendiri, ngumpul bareng teman, dan melanjutkan pendidikan ke bangku Universitas sambil bekerja. Banyak yang telah berubah dariku sejak aku memilih menghilang, sejak aku mulai memilih tidak ingin melihat dan mendengar kabarmu baik secara langsung maupun sekedar update-an akun social mediamu. Bahkan mungkin bagi sebagian orang ini adalah tindakan kekanak-kanakan yang memblock semua akun social media bahkan no.hp mu. Aku benar-benar ingin mengubah cara pandangku terhadapmu seperti yang kamu inginkan adalah berteman baik.

Kamu datang lagi mengusikku

Aku tidak membatasimu apabila kamu ingin berteman lagi denganku, toh aku tidak pernah marah atas jawabanmu. Tapi aku tidak ingin lagi untuk kesekian kali nya baper hanya karena perhatian mu yang menurutku melebihi kewajaran hubungan berteman baik. Wajarkah kamu menggodaku dimana kamu tau aku telah membuat pengakuan dan kamu hanya ingin kita berteman baik? Wajarkah kamu menanyakan kabarku dan keberadaanku saat ini dijam 3 pagi? Wajarkah kamu mengajakku jalan, tanpa mengajak teman kita yang lainnya? Wajarkah kamu membuat panggilan khusus kepadaku disaat kita chat? Apakah kamu memperlakukan semua teman baik wanitamu seperti ini? Tolong aku mohon padamu laki-laki yang aku anggap baik, yang aku anggap telah menyadarkanku dan membuat perubahan baik dalam hidupku kumohon bersikaplah selayaknya teman baik sehingga aku tidak baper dan menanyakan kembali bentuk perhatianmu, karena sejujurnya cukup sekali aku membuat pernyataan yang mebuatku malu dan merasa bodoh sampai sekarang.

“Sakit dari mencintaimu tidak pernah aku kalkulasikan”