Satu pesan ibu yang selalu kuingat adalah untuk mencintai diri sendiri. Karena tiada orang lain yang lebih bisa mencintai kita selain diri kita sendiri. Kurasa nasihat itu teramat benar. Sering kali kita merasa dicintai seseorang dengan sepenuh jiwa dan raganya, namun kita tak bisa memastikan ketulusan rasa itu.

Atau memastikan bahwa rasa itu selalu ada untuk kita. Kita sering merasa aman dengan mencintai orang lain yang menurut kita lebih sempurna. Dan kita berharap hal itu dapat menutupi segala kekurangan yang ada pada diri kita.

Advertisement

Konsep mencintai diri sendiri sebenarnya terkesan mudah. Tapi tanpa kita sadar masih banyak hal yang mencerminkan tak menerimanya kita atas apa yang telah kita miliki. Menyalahkan keadaan, membandingkan kita dengan orang lain atau bahkan merasa hinaan yang ditujukan terhadap kita adalah benar.

Kita sering menuntut hal yang selalu sempurna dalam hidup. Selalu indah layaknya film-film melankolis yang menyuguhkan kisah hidup yang teramat bahagia tanpa cacat. Wanita cantik, pintar, kaya tanpa kekurangan satu apapun.

Lelaki yang mapan dan bijaksana serta tampan. Gambaran-gambaran tersebut yang kadang mendoktrin kita bahwa hidup memang harus sempurna. Tapi sayangnya kenyaaan tak seindah dan semudah itu. Kita bukan tokoh yang ideal, kita juga bukan tinggal di dunia yang penuh kesempurnaan seperti apa yang tersuguhkan didepan mata kita.

Advertisement

Sedih, sakit, tangis, luka, dan bahkan bahagia menjadi satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan dalam realita hidup ini. Mungkin kita dapat mengingat beberapa memori dibelakang. Pernahkah kita merasa sedih? Atau merasa tersakiti? Pernah ditinggalkan orang yang menurut kita sangat menyayangi kita?

Atau pernah merasa tersakiti karena ucapan orang lain yang menghina diri kita? Bukankah itu lebih menyakitkan jika dibanding dengan sakit fisik? Apakah kita akan dengan mudah melupakan semua kejadian pahit itu? Ataukah ingatan itu terekam jelas di memori kita dan akan ada sepanjang hidup kita? Entahlah, jawabannya ada pada masing-masing dirimu.

Hal tersebut sebenarnya tidak akan terjadi jika kita mengerti konsep penerimaan diri. Mengasah kelebihan yang kita miliki, dan belajar menerima setiap kekurangan yang ada dalam diri kita. Mencintai diri sendiri artinya adalah mencintai jiwa dan raga, fisik dan rohani.

Karena seperti yang kita tahu, saat ini yang rentan bukan hanya urusan penyakit, tapi rentan gangguan psikologis. Rasa tidak percaya diri, sering merasa terhakimi, dibedakan atau bahkan di-bully sering muncul dalam benak kita. Sakitnya batin tersebut membutuhkan waktu yang tak sebentar agar pulih kembali. Atau justru seringkali kita sendirilah yang menolak untuk melupakan luka itu.

Dari sinilah kita harus belajar bahwa hidup adalah tentang berdamai dengan keadaan. Terlahir berbeda bukan berarti kita tak layak hidup di bumi ini. Menjadi berbeda bukan berarti orang lain berhak menghakimi diri kita. Kita punya kuasa atas diri kita sendiri.

Kita berhak bahagia dan kita harus bangga dengan apa yang kita miliki. Mulailah dengan tidak menyerap semua perkatan orang lain yang mungkin menyakitkan, belajar memaafkan diri sendiri dan juga orang lain. Karena kita harus percaya bahwa kita terlahir untuk memberi cahaya pada dunia.


Itulah kenapa aku sangat suka kejora, bintang yang paling bersinar diantara bintang lainnya. Aku menggambarkan langit itu adalah duniaku, dan kejora itu adalah diriku.

Tak maukah kamu untuk menjadi kejora dilangitmu sendiri? Menjadi bersinar dan memancarkan harapan bagi siapapun yang melihat.

Yogyakarta disuatu malam di bawah ribuan bintang.


Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya