Terkadang kenyataan tak seindah mimpi. Aku tak pernah bermimpi untuk mengenalmu. Aku tak pernah mengharapkan bertemu denganmu, bahkan aku tak pernah membayangkan berada dalam duniamu. Saat waktu itu menghampiriku, seakan dunia kita begitu bahagia. Dalam benakku akankah kita bertemu untuk kedua kalinya? Pertanyaan yang sepertinya hanya sebuah bunga tidur belaka. Namun, aku salah. Sang Pemilik waktu benar-benar mendengarnya. Mimpi itu benar-benar terjadi dan mempersatukan kita kembali.

Bertemu? Ya, bertemu. Aku tercengang, aku kaget seakan tak percaya takdir ini berpihak padaku. Begitu bahagia dunia kita, canda tawa kita berbagi bahkan tak ada kesedihan sedikitpun yang berani mengusik dunia kita. Waktu berlalu begitu cepat, dunia kita yang awalnya berbeda menjadi satu.

Advertisement

Aku mulai masuk ke duniamu, perlahan dan semakin mendalam. Aku terjatuh begitu dalam dan dalam ke duniamu dengan harapan bahagia bersamamu. Aku bahkan mulai melupakan duniaku sendiri. Melupakan kebahagiaanku di duniaku. Melupakan semua kebiasaanku untuk duniamu. Sementara pada kenyataannya yang aku dapatkan aku bukanlah siapa-siapa untukmu dan kamu bukan milikku saja.

Jahat, ya. Terlihat jahat. Waktu terus aku lalui, aku semakin tenggelam dalam kalutnya duniamu dengan harapan yang sudah pupus. Seakan kegelapan itu menghampiriku. Kegelapan itu mengambil semua kebahagiaanku, mengambil semua harapku.

Aku geram, aku marah.  Pikirku, haruskah aku mengerti duniamu? Haruskah aku terus terjatuh dalam duniamu? Pernahkah kamu sekali berpikir hal yang sama denganku? Pernahkah kamu berpikir bahagiaku? Ataukah kamu sedang berbahagia dengan duniamu bersama yang lain? Tanpa kamu sadari aku pun turut diundang menikmati kekonyolan duniamu.

Advertisement

Ingin aku teriak sampai kau mendengar suaraku, tapi apa daya teriakanku hanyalah sebuah nyanyian lucu yang taka da artinya untukmu. Aku kembali merenung dalam kesendirianku, haruskah aku tetap disini melihat semua permainanmu? Haruskah aku terus menikmati gelapnya duniamu? Ataukah aku beranjak pergi dari duniamu dan menikmati duniaku yang lama?

Penyesalan pun datang. aku menangis. Aku mulai menyalahkan sang waktu dengan apa yang aku alami, tanpa aku sadari aku sendiri yang terlalu jauh berjalan membawa duniaku ke dalam dunianya. Kini aku berada di persimpangan jalan yang membuat aku bingung jalan mana yang harus aku pilih. Berjalan sendiri tanpamu ataukan berjalan bersama denganu dan dirinya dalam duniamu? Ataukah aku kembali ke duniaku dan melupakan duniamu?

Pada akhirnya aku menyerah. Aku tertatih. Aku kembali ke duniaku dengan harapan yang baru tanpamu. Aku mulai menata hidupku dengan berhati-hati. Aku sadari bahwa hidup ini bukan hanya mencari yang terbaik, namun lebih kepada menerima kenyataan bahwa aku adalah aku. Jadi diriku sendiri.

Terima kasih untukmu yang telah mengundangku menikmati duniamu walaupun kekecewaan yang aku terima. Terima kasih untuk setiap kisah yang kau lukiskan dalam hidupku. Aku kembali.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya