"KALA. Pernah menjadi angkuh setinggi langit, lupa merendah serendah tanah. Padahal kala itu ia tahu ia diciptakan dari tanah dan akan kembali ke tanah" – Husnulstory

Akan ada masa dimana kita lelah akan berharap, bukan karena merasa jenuh dalam berdoa namun menyadari sebaik segala perencana adalah Allah. Aku malu pada Tuhanku yang begitu baik pada diri yang berdosa ini. Aku terus mendikte namamu pada Nya. Merangkai doa paling panjang dan penuh kekhusyukan. Terus merayu, merengek agar dijodohkan denganmu. Lelaki yang bahkan tak mengenal namaku.

Advertisement

Aku terus meminta pada-Nya, padahal Dia lebih tahu mana yang lebih baik untuk menjadi kekasih halalku.

Perihal dirimu selalu kusebut dalam doa tak pernah lupa. Tentang inginku untuk jadi pendamping hidupmu selalu jadi bagian terlama dalam aku meminta. Aku malu sungguh amat malu. Terkadang aku menjadikan lantunan doa untukmu yang utama, menomorduakan ibu dan bapak yang melahirkan dan juga mendidikku, memberiku makan dan menjaga hingga aku dewasa.

Ini bukan lagi tentang rasa yang meletup dan bersemayam lama di hati. Tapi perihal keikhlasan dan kepasrahan dalam menerima takdir yang nanti Dia gariskan. Entah itu bersanding denganmu atau lelaki lain yang telah Dia persiapkan dan tak ku ketahui.

Advertisement

Aku melepas dan merelakanmu sebab ku yakin itulah cara terbaik mengapresiasikan rasa untuk makhluk Allah yang belum halal untukku. Saat aku sibuk menyebut namamu, mempersiapkan diri bertemu denganmu, tanpa aku sadari ajalku semakin mendekat sebelum waktu temu kita terjadi.

Aku terlalu larut perkara jodoh yang tak datang tanpa menghiraukan bahwa kematian terus menghantui.

Aku takut malaikat maut lebih dulu menjemput saat aku tengah mengalaui kamu yang tak kunjung menjadi milikku. Aku takut menjadi jasad berbungkus kain putih, roh dicabut dalam tubuh saat pikiranku sedang berandai-andai bersamamu. Aku terlalu dibuai tentang hal-hal indah yang dipamerkan para selebgram tentang manisnya pernikahan.

Aku terlalu ‘bawa perasaan’ saat ‘mereka’ yang telah halal begitu bangganya menjadikan pasangan mereka tontonan, membiarkan kecantikan, kesholehan, keseharian dan sebagainya jadi konsumsi banyak orang. Hingga aku lupa bahwa pernikahan itu butuh ilmu bukan karena "pengen", aku lupa bahwa pernikahan itu bukan ajang lomba lari alias terburu-buru, bukan pula tempat melepas lelah akan rutinitas dan bukan pula hubungan yang ada masa kadaluwarsanya, karena pernikahan itu mengikat seumur hidup.

Aku membiarkan waktu ku terbuang begitu saja. Memupuk semakin banyak dosa. Ku biarkan malaikat Atid bekerja begitu keras mencatat amal burukku.

Aku sibuk mencemaskan aksaraku yang kehilangan nyawa saat tak ada namamu didalamnya. Dan aku tak pernah mempersalahkan jika doa ku hanya untaian kata pemanis. Aku lebih khawatir jika aksara ku tak lagi berwarna saat namamu tak tertulis didalamnya. Dan aku biasa-biasa saja saat dalam doaku datar-datar saja.

Aku malu pada Allah, Sang Pemilik Kehidupan. Aku takut Ia cemburu karena aku lebih ‘mengebu’ soal makhluknya. Padahal Allah-lah yang telah menciptakan dia.

Sebelum Dia lebih marah aku sudahi saja tipuan rasa, sebuah rasa yang ada sebelum halal.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya