Ada banyak hal yang bisa memengaruhi cita rasa secangkir kopi yang sedang kita teguk. Seperti jenis kopi apa yang tersedia di cangkirmu, bagaimana cara penyajiannya, momen yang pas, teman di samping atau tempat yang kau pilih untuk menghabiskan pekatnya Kahwa. Semua tergantung dengan seleramu, kita sepakat bukan bahwa semua hal bisa diperdebatkan kecuali selera. Misal untuk jenis kopi beberapa orang cenderung ke robusta, tapi tidak sedikit pula yang lebih dominan ke arabika. Itu bukan masalah, toh semua orang memiliki alasan kenapa ia tidak begitu gandrung terhadap satu jenis kopi. Entah karena aroma, cita rasa, atau ia memiliki masalah dengan lambung.

Kembali lagi, semua tergantung selera. Pun dengan tempat yang dipilih untuk menghirup aroma kafein, ada orang yang menjadikan warung kopi tradisional sebagai opsi untuk nongkrong sembari berbincang tentang sepakbola, politik, musik, film, buku serta segala hal yang mampu membuat larut. Tak sedikit pula yang menghabiskan waktu dikarenakan sembari bertanya kata sandi Wi-Fi kepada pelayan, berselfie ria agar tidak kaku di sosial media. Atau, menikmati kopi di kamar seraya membaca buku, melanjutkan skripsi yang tak kunjung usai, mendengarkan musik kegemaran, melunasi deadline dan hal lain yang lazim dilakukan disana.

Advertisement

Dimanapun itu, kopi selalu menjadi wadah pemersatu yang paling pahit. Tapi dari ketiga pilihan diatas ada satu opsi yang belum belum disebutkan, dan bisa dijadikan pilihan. Di alam terbuka. Sebab ketika menyajikan kopi di alam terbuka, setiap tetes yang kau teguk adalah cinta.

Pilihlah tempat yang masih alami, belum terjamah, dan jauh dari rutinitas. Jika bisa pilihlah tempat paling sunyi, menyendirilah dan biarkan kopi menjadi satu-satunya teman akrabmu, tak usah risau ia tak akan membeberkan keburukanmu kepada siapapun.

Jika kau kebingungan untuk memilih alam yang masuk kedalam kategori tadi, cobalah buka mesin pencari lalu ketik kata kunci Pantai Binuangeun Banten setelahnya kau akan menemukan jawaban. Terminologi Jawara begitu lewat dengan Provinsi Banten, Banten dan Jawara adalah relasi yang tidak dapat dipisahkan, keduanya sangat erat. Sama halnya ketika berbicara tentang sinetron tanpa drama, Banten tapi Jawara pun selaras hambarnya. Tapi tunggu dulu, di balik itu semua Banten memiliki potensi kaya.

Advertisement

Ada banyak wisata kuliner yang akan memaksa lidahmu bergerak lincah layaknya Jawara yang hendak menerima musuh, ragam budaya yang akan akan membuatmu terpana, juga deretan pantai indah yang belum terjamah. Pantai Carita, Anyer, Tanjung Leungit kini ramai pengunjung. Itu akan membuat kopimu menjadi murung. Itulah alasan kenapa beberapa detik lalu saya menyarankan untuk menambahkan kata Binuangeun di tengah kalimat di mesin pencari.

Seandainya kau penikmat kopi yang merangkap sebagai seorang pemancing, mendengar tempat ini mungkin tak begitu asing. Di sini tak ada resort mewah nan nyaman, tapi sikap warga yang ramah akan membuatmu merasa aman. Jangan harap bisa berjumpa dengan deretan plaza dengan segala jenis barang, paling banter kau jumpa dengan dua minimarket yang selalu berdampingan. Yang tak kalah istimewa, tak usah risau kopimu tercemar asap knalpot, sebab di sini jumlah kendaraan tidak sebanyak yang kau bayangkan.

Di sana sebelum magrib akan banyak pemburu hasil tangkap laut bergegas pulang, jika berdua dengan mereka berilah senyum hangat, agar padanya entah sedikit rasa penat. Jika tak keberatan sila ajak mereka ngopi, sebab kau tau hasil tangkap para nelayan tidak selancar koruptor yang ongkang di senapan. Setelah senja pergi jangan dulu bergegas. Keindahan di sini belum juga tuntas. Kerlip lampu di bagang nelayan akan memanjakan matamu. Ambil kamera seadanya lalu abadikan, agar kau mengerti bahwa tak selalu kepergian itu menyakitkan.

Tak usah khawatir perutmu tak terisi, ada ragam ragam kuliner tradisional yang dapat dijadikan opsi. Jojorong misalnya, pandangan ringan dengan tambahan gula dialaminya. Nikmati selagi hangat, setelah gula merah meleleh dilidahmu kau akan berfikir bahwa Jojorong adalah hal nomor dua yang kau suka setelah senja di Binuangeun. Jika perutmu kurang puas, kau bisa membeli ikan dengan harga pas. Maklum. Daerah ini termasuk kedalam daerah penghasil ikan terbesar di Banten. Kau tau membakar ikan dipanggil pantai dengan aroma laut selatan adalah kemewahan yang bahkan Firaun pun belum pernah mencobanya. Sesekali bacalah buku analogi puisi untuk menemani ribuan ngopimu. Sebab kata Joko Pinurbo :

Ketika dua atau tiga cangkir kopi berkumpul untuk merayakan sepi Puisi ada ditengah-tengahnya

Kita ini secangkir kopi, kamu cangkirmu aku kopinya. Peminumnya adalah malam, hujan, puisi.

Bagaimana sudah mewah ritual ngopimu? Jika belum, sesekali dengarkan alunan musik payung teduh yang tak kalah lembut dari belayan udara di Binuangeun. Putarlah lagu cerita tentang gunung dan laut, resapan setiap irama, kemudian pada lirik aku tak pernah melihat laut tertawa, biarpun kesejukan bersama tariannya kecuplah cangkirmu, hirup uapnya, ajak setiap tetes kopimu bercinta.

Sudah tertarik untuk datang ke Binuangeun? Jika benar, tak usah bingung mengenai rute. Empat jam menggunakan kendaraan darat dari Kota Serang. Tidak terlalu rumit, carilah bus jurusan Serang-Saketi-Binuangeun. Duduklah di dalam bus, nikmati perjalananmu. Kemudian jika sudah sampai jangan salahkan saya jika kamu mengutuk diri sendiri, sebab setelahnya penyesalan akan datang. Di sana ketika pertama kali melihat gugusan karang kau akan memaki seraya berkata sial, mengapa tidak dari dulu aku bisa menyesap Aroma Kahwa Diranah Jawara

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya