Istilah “Gen Z low energy” hari ini semakin sering digunakan untuk menggambarkan fenomena generasi Z yang dianggap semakin cepat lelah, mudah kehilangan motivasi, dan tidak lagi tertarik menjalani pola hidup serba sibuk.
Di satu sisi, fenomena ini kerap dijadikan bukti bahwa Gen Z lebih malas dan tidak tahan terhadap pressure (tekanan). Namun, nyatanya klaim tersebut terlalu sederhana.
Fenomena ini bisa disebut sebagai adanya perubahan bagaimana cara generasi rentang kelahiran 1997-2022 ini dalam merespons tekanan kerja, ketidakpastian ekonomi, dan tuntutan produktivitas.
Ulasan kami kali ini akan mengupas lebih dalam mengenai fenomena ini. Simak pembahasan lengkapnya di bawah ini!
Apa Itu Gen Z Low Energy?

Sumber gambar: canva.com
Gen Z low energy adalah istilah populer yang menggambar kondisi seseorang (generasi Z) yang cepat kehabisan energi secara fisik atau mental, serta tidak ingin terus menerus dalam kondisi produktif.
By definition, fenomena ini berbeda dari burnout.
Berdasarkan buku kesehatan keluaran WHO; ICD-11, burnout sendiri didefinisikan sebagai sindrom akibat stres kronis di tempat kerja yang tidak berhasil dikelola. Ciri utamanya meliputi kelelahan atau kehabisan energi, meningkatnya jarak mental atau sinisme terhadap pekerjaan, dan menurunnya efektivitas profesional.
Dengan demikian, seseorang yang sedang malas bekerja pada hari tertentu atau ingin menghabiskan akhir pekan untuk beristirahat belum tentu mengalami burnout.
Mengapa Fenomena Ini Muncul?
Hingga hari ini, fenomena gen Z low energy semakin relevan dengan banyak anak muda. Bukan tanpa sebab, ada beberapa faktor yang kuat melatarbelakang hal ini, antara lain:
1. Hidup dalam Kondisi Stimulasi Tanpa Henti

Sumber gambar: canva.com
Gen Z tumbuh dalam lingkungan digital yang membuat informasi selalu tersedia. Smartphone, media sosial, aplikasi komunikasi, video pendek, email, dan platform kerja bisa membuat seseorang terus menerima rangsangan sepanjang hari.
Masalahnya bukan hanya berapa lama seseorang menggunakan smartphone, namun apakah otak benar-benar mendapatkan kesempatan untuk beristirahat.
Bahkan ketika sudah selesai bekerja atau kuliah, seseorang masih bisa menerima notifikasi, membaca berita, membalas pesan, atau berpindah dari satu platform ke platform lain. Batas antara waktu produktif dan waktu pribadi akhirnya menjadi semakin kabur.
Kondisi akhirnya menimbulkan rasa capek semu – capek padahal tidak melakukan banyak hal. Pasalnya, energi mental terkuras oleh perhatian yang terus berpindah.
2. Tekanan Masa Depan Semakin Kompleks

Sumber gambar: canva.com
Gen Z memasuki dunia dewasa dalam periode yang ditandai perubahan teknologi dan ketidakpastian ekonomi. Persaingan pekerjaan makin ketat, sementara perkembangan AI membuat sebagian anak muda mempertanyakan keterampilan apa yang masih relevan beberapa tahun mendatang.
Bahkan data dari APA (American Psychological Association) menunjukkan bahwa kekhawatiran terhadap perkembangan AI menjadi sumber stress yang semakin besar. Dalam survei Stress in America 2025, sebanyak 65% responden berusia 18-34 tahun juga mengatakan perkembangan AI menjadi sumber stres, meningkat dari 52% pada 2024.
Meskipun respondennya bukan dari Indonesia, angka dari survei tersebut kurang lebih menggambarkan bahwa adanya kecemasan yang lebih luas di kalangan gen Z terhadap perubahan teknologi dan masa depan.
3. Budaya Produktivitas Mulai Dipertanyakan

Sumber gambar: canva.com
Generasi muda juga semakin kritis terhadap gagasan bahwa semakin lama seseorang bekerja, semakin sukses pula dirinya.
Selama bertahun-tahun, budaya hustle mempromosikan bekerja lebih keras, mengambil pekerjaan sampingan, terus meningkatkan keterampilan, dan selalu terlihat produktif.
Masalahnya, produktivitas tanpa pemulihan bisa menjadi tidak berkelanjutan.
Karena itu, keinginan Gen Z untuk memiliki waktu pribadi tidak selalu berarti mereka tidak memiliki ambisi. Bisa jadi mereka sedang menolak definisi kesuksesan yang mengharuskan seseorang mengorbankan seluruh waktu dan energinya untuk pekerjaan.
Perubahan tersebut juga terlihat dalam cara pekerja muda memandang hubungan antara karier dan kehidupan pribadi. Pada 2026, pembahasan mengenai keamanan kerja, keseimbangan hidup, kesehatan mental, dan batas antara pekerjaan dengan kehidupan pribadi semakin kuat di tengah perubahan pasar kerja.
Apakah Gen Z Memang Lebih Mudah Lelah?

Sumber gambar: canva.com
Belum ada dasar yang cukup untuk menyatakan bahwa Gen Z secara inheren lebih mudah lelah dibandingkan generasi sebelumnya.
Perbedaan yang lebih terlihat mungkin terletak pada cara mereka mengenali dan mengomunikasikan kelelahan.
Generasi muda kini memiliki kosakata yang lebih terbuka untuk membicarakan kesehatan mental, batas pekerjaan, kebutuhan istirahat, dan pengalaman emosional. Sesuatu yang dahulu mungkin dilabeli hanya dengan kata “capek” sekarang dapat dibicarakan sebagai mental fatigue, overstimulation, atau burnout.
Karena itu, label “Gen Z low energy” pada dasarnya tidak bisa digunakan untuk menyederhanakan persoalan atau klaim menjadi “generasi muda sekarang malas”.
Low Energy Perlu Dianggap Serius Jika Mengganggu Aktivitas!

Sumber gambar: canva.com
Merasa lelah sesekali pada dasarnya adalah bagian normal dari menjalani kehidupan. Namun, kelelahan terus-menerus dan mulai mengganggu pekerjaan, pendidikan, hubungan sosial, tidur, atau aktivitas sehari-hari sebaiknya perlu diperhatikan.
Terlebih lagi, rasa lelah bisa datang dari banyak penyebab. Kurang tidur, pola hidup yang tidak teratur, stres, masalah kesehatan fisik, gangguan suasana hati, hingga faktor lingkungan.
Karena itu, seseorang sebaiknya tidak langsung mendiagnosis dirinya sendiri sebagai burnout hanya karena merasa “Low energy”.
Gen Z Low Energy Bukan Berarti Gen Z Malas
Singkatnya, fenomena Gen Z low energy lebih tepat dipahami sebagai bagian dari perubahan cara generasi muda menghadapi dunia yang bergerak cepat.
Mereka hidup dengan konektivitas digital tanpa henti, perubahan teknologi yang cepat, tekanan ekonomi, persaingan pekerjaan, dan ekspektasi untuk selalu produktif. Dalam situasi seperti itu, keinginan untuk memperlambat ritme hidup tidak otomatis menunjukkan kemalasan.
Justru, fenomena ini bisa menjadi notice bahwa energi manusia memiliki batas. Bekerja keras memang penting, namun kemampuan untuk beristirahat, menetapkan batas, dan menjaga ritme hidup yang berkelanjutan juga merupakan bagian dari produktivitas jangka panjang.
Yang perlu dihindari adalah mengubah istilah “Gen Z low energy” menjadi stereotip. Di balik fenomena tersebut terdapat persoalan yang jauh lebih kompleks daripada sekadar generasi yang dianggap tidak mau bekerja keras. Gimana menurutmu?