Pertama kali bertemu denganmu, biasa saja. Kau tak setampan seperti sahabatmu tapi aku heran mengapa banyak teman sekelasku yang selalu menyebut namamu.Kakak kelas yang ikut mengulang pelajaran dikelasku karena nilai jeblok disemester sebelumnya, cuma itu yang aku lihat dari mu, nothing special. Tapi, mengapa banyak temanku selalu menyebut namamu? Aneh menurutku, dan itu membuatku aku mulai sesekali melihat ke arahmu.

Dari kelasku di lantai 4, aku melihat kau dan teman-teman seangkatanmu duduk dibawah pohon rindang. Ketika icon kampus kita, gadis cantik berambut panjang melenggang didepan kalian, semua mata memandang tak berkedip hingga sosok itu menghilang, kulihat kau hanya menatap sekilas dan asik kembali menghisap rokokmu. Wooow ini kah alasan kenapa banyak temanku menyebut namamu?

Perkenalan itu dimulai saat kau dan beberapa temanmu sedang asik mengobrol dikafetaria, waktu itu aku hendak mengisi perut yang mulai keroncongan. Dek, panggilmu sambil memandangku. Aku menunjuk diriku sendiri, saya ucapku. Kau hanya mengangguk. Kau meminjam buku cacatan dan meminta no teleponku. Perlahan kau menjadi dekat denganku, dan tak seperti cowok kebanyakan yang mengumbar rayuan, kau begitu bersahaja. Kau selalu ada disaat aku membutuhkan bantuan, aku selalu mengingat kata-katamu, "kalau kamu butuh apapun dan mau pergi kemana aja, bilang sama aku, aku akan membantumu". Ah, Aku selalu ingin tahu isi hatimu, namun aku terlalu malu sebagai perempuan untuk bertanya, apa arti diriku bagimu.

Cerita keponakamu ditelepon saat aku memintamu untuk mengantarkanku ke suatu tempat. Hanya telepon dariku yang kau terima disaat kau masih tertidur di pagi buta, bahkan kau akan meminta ibumu menelpon lagi jika meneleponmu diwaktu seperti ini. Semakin mengenalmu semakin aku mengagumimu dan menampikan lelaki lain yang mendekatiku. Kita hanya berteman dekat saja, terkadang kau bertanya mengapa aku bermalam minggu sendiri, aku dengan entengnya menjawab oh…pacarku sedang pulang kampung, padahal orang lain itu tidak ada.

Tahukah kau , jika kau yang selalu aku tunggu. Aku lelah, lelah dengan arti perhatianmu dan arti diriku untukmu. Akhirnya, kita wisuda bersamaan, aku lebih awal 1 semester dari waktu yang ditentukan sedangkan kau mundur 1 semester. Setelah itu kita berpisah, kau kembali ke kampung halamanmu, dan aku tetap dikota ini. Hanya telepon dari mu yang aku terima, saat aku ultah kau selalu mengucapkan doa melalui telepon, saat ramadhan tiba kau selalu membangunkanku setiap hari dengan suara sahuuur ditelepon.

Advertisement

Sampai saat ini aku masih selalu ingat ucapanmu, "kamu tuh unik, satu diantara seribu". Namun, tak sepatah kata ucapan cinta darimu. Padahal aku selalu berharap itu. Hari itu terakhir aku mendengar suaramu di telepon, satu bulan sebelum hari pernikahanku. Aku mengundangmu untuk datang kekotaku, menghadiri pernikahanku dengan seseorang yang baru aku kenal 6 bulan dengan proses ta'aruf. Kau hanya mengucapkan selamat dan tak pernah menelfonku lagi bahkan ketika aku menelponmu nomor handphonemu sudah tidak aktif lagi.

4 tahun berlalu, ketika aku sudah mempunyai 2 buah hati yang lucu, di hari itu aku mendengar dari sahabatmu kau akan menikah. Telepon itu membuatku berdiri kaku, kau sangat mencintaiku dulu namun selalu merasa bahwa aku terlalu baik untuk menjadi kekasihmu. Kata cinta setelah 4 tahun berlalu terlalu menyesakkan dadaku. Untukmu yang telah mengisi ruang kecil dihatiku, semoga saat ini engkau berbahagia dengan keluarga kecilmu seperti aku yang saat ini juga berbahagia dengan keluarga kecilku. Untuk yang sedang mencintai seseorang dalam diam, ungkapkan cintamu sebelum terlambat. Karena ungkapan cinta setelah terlambat itu amat menyesakkan dada.