Pengalaman Gagal CPNS 3 Kali, Ini yang Aku Pelajari!

3 lose streak, ini yang aku pelajari saat gagal tes CPNS!

Dulu, aku pernah berpikir bahwa menjadi PNS adalah salah satu pencapaian besar yang harus kuraih sebelum usia semakin bertambah. Bagiku, pekerjaan dengan penghasilan tetap, jenjang karier yang jelas, dan jaminan masa depan terdengar seperti kehidupan ideal yang ingin kumiliki.

Karena itu, aku mencoba mengikuti seleksi CPNS. Bukan hanya sekali, tetapi sampai tiga kali. Sayangnya, ketiganya berakhir sebagai pengalaman gagal CPNS.

1Gagal pertama
“masih ada tahun depan”
2Gagal kedua
mulai ragu
3Gagal ketiga
mempertanyakan banyak hal

Hal yang aku pelajari dari pengalaman gagal CPNS

Awalnya aku menganggap kegagalan pertama sebagai hal biasa. Aku masih punya kesempatan tahun depan. Kegagalan kedua mulai membuatku ragu dengan kemampuan sendiri. Sementara kegagalan ketiga benar-benar membuatku mempertanyakan banyak hal.

Namun, setelah melewati semuanya, aku menyadari bahwa pengalaman tersebut memberiku beberapa pelajaran yang mungkin tidak akan kudapatkan jika sejak awal semuanya berjalan sesuai harapan.

1. Usaha keras tidak selalu berakhir sesuai keinginan

Peserta belajar latihan soal persiapan seleksi CPNS
Ilustrasi | Hipwee

Salah satu hal paling sulit yang harus kuterima adalah kenyataan bahwa usaha keras tidak selalu menghasilkan sesuatu yang kita inginkan.

Aku pernah menghabiskan banyak waktu untuk belajar, mengerjakan latihan soal, dan mempersiapkan diri menghadapi seleksi. Ada hari ketika aku merasa cukup percaya diri. Ada juga hari ketika materi terasa begitu sulit sampai membuatku ingin menyerah.

Aku sempat berpikir bahwa selama persiapan dilakukan dengan serius, hasilnya pasti akan sepadan.

Ternyata tidak sesederhana itu.

Seleksi CPNS memiliki persaingan dan ketentuan yang harus dipenuhi. Ada banyak peserta lain yang juga mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh. Pada akhirnya, tidak semua orang bisa mendapatkan posisi yang tersedia.

Dari situ aku belajar bahwa usaha memang penting, tetapi hasil tidak selalu berada dalam kendaliku.

“Usaha memang penting, tapi hasil nggak selalu ada dalam kendaliku.”

ADVERTISEMENTS

2. Tidak bisa terus membandingkan diri dengan orang lain

Perempuan melihat unggahan teman di media sosial
Ilustrasi | Hipwee

Setelah beberapa kali gagal, aku mulai sering membandingkan diri dengan teman-teman yang berhasil lolos.

Melihat mereka mengenakan seragam atau membagikan cerita tentang pekerjaan barunya terkadang membuatku bertanya-tanya, mengapa aku belum bisa mendapatkan hal yang sama?

Padahal, setiap orang memiliki perjalanan berbeda.

Aku tidak tahu berapa lama mereka mempersiapkan diri, berapa kali mereka pernah gagal, atau tantangan apa yang harus mereka hadapi sebelum berhasil.

Begitu juga sebaliknya. Orang lain tidak selalu tahu bagaimana perjuanganku selama mengikuti seleksi.

Aku akhirnya menyadari bahwa terlalu sering membandingkan diri hanya membuatku sulit menghargai proses sendiri. Keberhasilan orang lain seharusnya tidak otomatis menjadi bukti bahwa aku tertinggal.

“Keberhasilan orang lain bukan bukti bahwa aku tertinggal.”

3. Kegagalan tidak menentukan seberapa berharga diriku

Pria termenung setelah gagal seleksi kerja
Ilustrasi | Hipwee

Jujur, kegagalan ketiga membuatku sempat merasa tidak cukup baik.

Ada perasaan malu ketika orang bertanya tentang hasil seleksi. Apalagi ketika pertanyaan itu datang dari orang-orang yang tahu bahwa aku sudah beberapa kali mencoba.

Aku mulai menghubungkan kegagalan seleksi dengan kemampuan diri sendiri. Seolah-olah tidak lolos CPNS berarti aku kurang pintar, kurang mampu, atau tidak punya masa depan yang jelas.

Namun, perlahan aku belajar memisahkan hasil seleksi dari nilai diriku sebagai manusia.

Tidak lolos CPNS memang berarti aku belum memenuhi hasil yang dibutuhkan dalam seleksi tersebut. Namun, itu bukan berarti seluruh kemampuanku tidak berguna.

Aku masih punya keterampilan, pengalaman, dan kesempatan untuk berkembang di bidang lain.

Ternyata, gagal mendapatkan satu pekerjaan tidak sama dengan gagal menjalani kehidupan.

“Gagal mendapatkan satu pekerjaan nggak sama dengan gagal menjalani hidup.”

4. Belajar menerima hal yang tidak bisa dikendalikan

Perempuan menarik napas untuk menenangkan diri
Ilustrasi | Hipwee

Dulu, aku cukup sering memikirkan hasil seleksi bahkan setelah pengumuman keluar.

Aku mengulang-ulang pertanyaan yang sama: bagaimana kalau waktu itu aku belajar lebih banyak? Bagaimana kalau memilih formasi berbeda? Bagaimana kalau jawabanku tidak seperti itu?

Memikirkan kemungkinan tersebut memang manusiawi. Namun, terlalu lama terjebak di dalamnya tidak akan mengubah hasil yang sudah keluar.

Aku akhirnya belajar membedakan hal yang bisa dan tidak bisa kukendalikan.

Aku bisa mengatur waktu belajar, memperbaiki strategi, dan mempersiapkan diri lebih baik. Namun, aku tidak bisa mengendalikan tingkat persaingan, jumlah formasi, atau hasil akhir seleksi.

Menerima kenyataan ini membuatku sedikit lebih tenang.

Bukan berarti aku berhenti berusaha, tetapi aku tidak ingin terus menyalahkan diri sendiri atas sesuatu yang tidak sepenuhnya berada dalam kendaliku.

“Aku nggak ingin terus menyalahkan diri atas hal yang di luar kendaliku.”

5. Tidak harus mengikuti standar keberhasilan orang lain

Anak muda bekerja di kafe dengan laptop
Ilustrasi | Hipwee

Ada masa ketika aku menganggap menjadi PNS sebagai gambaran kehidupan yang berhasil. Aku merasa harus mendapatkan pekerjaan tetap, memiliki penghasilan stabil, dan mencapai kemapanan seperti orang-orang di sekitarku.

Namun, setelah merasakan sendiri gagal CPNS, aku mulai mempertanyakan apakah menjadi PNS memang satu-satunya jalan menuju kehidupan yang kuinginkan.

Ternyata, ada banyak cara untuk membangun masa depan.

Ada orang yang berkembang melalui pekerjaan swasta, membangun bisnis sendiri, bekerja sebagai pekerja lepas, atau menekuni bidang yang sebelumnya tidak pernah mereka bayangkan.

Aku mulai memahami bahwa pekerjaan seseorang tidak seharusnya menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan.

Menjadi PNS tetap boleh menjadi impian. Namun, aku tidak ingin menggantungkan seluruh kebahagiaan pada satu profesi.

“Pekerjaan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan.”

6. Berhenti sejenak bukan berarti menyerah

Pria beristirahat sejenak sambil menatap jendela
Ilustrasi | Hipwee

Setelah tiga kali gagal, aku merasa perlu memberi diriku waktu untuk beristirahat.

Aku tidak ingin langsung memaksakan diri mengikuti seleksi berikutnya hanya karena takut kehilangan kesempatan. Aku ingin memikirkan kembali tujuan, kemampuan, dan pilihan karier yang tersedia.

Dulu, aku menganggap berhenti mencoba sebagai bentuk menyerah. Sekarang, aku mulai melihatnya sebagai kesempatan untuk mengevaluasi diri.

Mungkin aku perlu memperbaiki strategi belajar, misalnya ikut bimbel CPNS atau lebih rutin mengerjakan try out. Mungkin aku perlu mencoba pekerjaan lain. Atau mungkin aku memang membutuhkan waktu untuk mencari tahu apa yang sebenarnya kuinginkan.

Aku tidak harus selalu bergerak cepat untuk membuktikan bahwa aku masih berjuang.

Terkadang, mengambil jeda justru membantuku melihat sesuatu dengan lebih jernih.

“Mengambil jeda justru membantuku melihat dengan lebih jernih.”

Masih punya kesempatan untuk berhasil

Gagal CPNS tiga kali berturut-turut mengajarkanku bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana. Ada sesuatu yang sudah kuusahakan dengan sungguh-sungguh, tetapi tetap tidak berhasil kudapatkan.

Aku tidak akan mengatakan bahwa semuanya terasa mudah. Sampai sekarang, mungkin masih ada sedikit rasa kecewa ketika mengingat pengalaman tersebut. Namun, aku tidak ingin terus hidup dengan menganggap tiga kegagalan itu sebagai akhir dari segalanya.

Aku masih punya kesempatan untuk mencoba hal baru, mengembangkan kemampuan, dan membangun kehidupan yang kuinginkan.

Dulu, aku berpikir keberhasilan berarti berhasil menjadi PNS. Sekarang, aku mulai memahami bahwa keberhasilan juga bisa berarti berani melanjutkan hidup setelah berkali-kali mengalami kegagalan.

Aku memang gagal tiga kali dalam seleksi CPNS, tetapi aku tidak harus gagal dalam menjalani hidupku sendiri.
Pernah gagal CPNS juga?Bagikan cerita ini ke teman yang sedang menunggu pengumuman atau baru saja menerima hasil yang nggak sesuai harapan. Kamu nggak sendirian.

ADVERTISEMENTS

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Senior content writer - Wordsmith with 10 years experience. I do write everything; lifestyle, technology, finance, economic, entertainment, business, viral things, etc. Business inquiries: 0895422334529

Editor

Bisa diajak diskusi panjang lebar tentang kehidupan asal ada segelas kopi di atas meja. Mengubah kafein menjadi inspirasi, lalu merangkainya menjadi cerita. Percaya bahwa ide-ide terbaik selalu datang dari hal-hal yang paling sederhana.