Berbicara soal penggunaan obat-obatan terlarang adalah suatu topik yang kontroversial. Meski beberapa negara memungkinkan penggunaannya sebagai medis atau bahkan melegalkannya, obat-obatan yang syarat dengan efek buruknya ini tetap harus diwaspadai.

Namun, dibalik segala kontroversi yang simpang siur, beberapa narkoba jenis tertentu memiliki kandungan yang berguna dalam pengobatan. Pernyataan ini telah melewati proses penelitian dan dipraktikkan dalam pengobatan-pengobatan tertentu. Yah, namanya juga kehidupan, segala sesuatu punya efek positif dan negatif, ‘kan?

Lalu, kira-kira apa saja ya jenis-jenis narkoba yang biasa digunakan dalam pengobatan? Hipwee Tips telah merangkumnya dari livescience.com dan simak penjelasan berikut ini, ya…

1. Ekstasi mampu mengurangi kecemasan, meringankan gejala parkinson dan perawatan untuk korban stres pasca-trauma

Ekstasi merupakan senyawa sintetis yang mengandung senyawa MDMA yang efeknya bisa mengurangi kecemasan, memberikan keseimbangan, mengaktifkan emosi sementara, dan energi yang tinggi.

Para peneliti telah membuktikan bahwa ekstasi bisa mengobati penyakit parkinson melalui pelepasan kadar serotonin di otak. Penelitian lain telah menemukan bahwa ekstasi memiliki sifat anti kanker yang kuat, terutama untuk leukemia, limfoma dan myeloma.

Advertisement

Pada tahun 2011, peneliti dari University of Birmingham menemukan bahwa bentuk yang sedikit dimodifikasi dari ekstasi adalah 100 kali lebih kuat untuk menghancurkan sel-sel kanker.

Korban stres pasca-trauma atau Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) juga menunjukkan respon positif terhadap perawatan yang melibatkan ekstasi. Sifat psikoaktifnya-lah yang mampu menangani kondisi ini.

2. Kokain; sebuah obat bius baru, obat pencahar, dan obat motion sickness

cocaine. via www.bumm.sk

Dahulu, daun dari tanaman koka telah digunakan sebagai stimulan di Amerika Selatan selama ribuan tahun. Kokain, obat yang terbuat dari koka, digunakan sebagai obat bius penghilang rasa sakit untuk prosedur bedah. Ketika dikombinasikan dengan senyawa lain yang disebut TAC, kokain juga dapat mengobati luka kulit ringan, karena obat ini mampu menyempitkan pembuluh darah.

Dr. Andrew Weil, pendiri dan direktur Arizona Center for Integrative Medicine, telah mempelajari efek kokain di antara masyarakat Amerika Selatan. Karena kandungan alkaloidnya, kokain punya kelebihan menghambat aktivitras usus yang bisa mengobati mabuk perjalanan, radang tenggorokan, sembelit dan obesitas.

3. LSD; mengobati ketergantungan alkohol, perawatan untuk depresi dan mengobati sakit kepala cluster

LSD via vice.com

LSD (lysergic acid diethylamide) adalah halusinogen yang telah banyak digunakan selama beberapa dekade. Penelitian terbaru menemukan bahwa LSD berpotensi untuk mengobati kecanduan alkohol. Sebuah studi dari Norwegia yang diterbitkan pada tahun 2012 dalam Journal of Psychopharmacology, menunjukkan bahwa LSD mengurangi kecanduan alkohol.

Selain itu, dalam jurnal Spring Grove State Hospital di Maryland, para peneliti membuktikan bahwa LSD membantu mengurangi kecemasan mereka tentang kematian pada pasien kanker akut. Sepertiga dari pasien mengatakan bahwa rasa tegang, depresi, takut kematian dan kesakitan mereka berkurang drastis.

Lagi, Harvard Medical School yang dikuatkan dengan studi di McLean Hospital mewawancarai pasien sakit kepala yang menggunakan LSD untuk mengobati kondisi mereka. Tujuh dari delapan mengatakan sakit kepala mereka reda.

4. Ketamin; perawatan ajaib untuk depresi

Ketamin yang juga disebut “Special K”, sebenarnya merupakan penenang hewan. Namun obat ini juga digunakan untuk menghilangkan gejala depresi. Sebuah studi pada tahun 2012 dari jurnal science menemukan bahwa ketamin mampu memperbaiki sambungan neuron di otak yang sebelumnya telah rusak oleh stres kronis. Penderita depresi mengalami efek positif ini dengan sangat cepat.

5. Magic Mushroom; mengobati sakit kepala cluster dan OCD

magic mushroom via prismagazine.com.au

Jamur mengandung senyawa psilocybin yang menghasilkan efek serupa dengan LCD yakni euforia dan halusinasi, bahkan ketika dikonsumsi dalam jumlah kecil. Beberapa bukti menyebutkan bahwa sejumlah kecil psilocybin dapat meringankan gejala sakit kepala cluster, gangguan OCD (Obsessive Compulsive Dissorder) dan depresi.

Sebuah studi dari University of Arizona menunjukkan bahwa mereka dengan kondisi sakit kepala, bisa reda sementara dan bahkan ada yang sakit kepalanya sembuh sama sekali setelah terapi selama enam bulan.

Meski demikian, para peneliti mengakui bahwa studi ini nggak serta merta membuktikan bahwa psilocybin dapat berfungsi sebagai pengobatan, mereka hanya mengatakan bahwa psilocybin ini cukup menjanjikan untuk dilakukan studi lebih lanjut.

6. Ganja; obat untuk kanker, AIDS, sklerosis, glaukoma dan epilepsi

ganja via alodokter.com

Ganja, selain jadi obat terlarang yang paling banyak digunakan di Amerika Serikat, memiliki potensi manfaat untuk kesehatan.

Menurut NORML, sebuah kelompok advokasi ganja, 21 negara bagian dan District of Columbia memungkinkan beberapa penggunaan ganja medis. Obat ini telah terbukti selama bertahun-tahun penelitian ilmiah untuk penanganan kanker, mencegah PTSD atau stres pasca-trauma, merangsang nafsu makan bagi penderita AIDS, mengontrol mual, mengurangi tekanan intra-okular terkait dengan glaukoma, mengobati ketergantungan opioid, multiple sklerosis, hingga epilepsi.

Namun karena banyak disalahgunakan dan justru menimbulkan kontroversi sebagai pengobatan, ganja dianggap ilegal menurut undang-undang.

Meski beberapa jenis narkoba ini dianggap memiliki kandungan yang bermanfaat bagi pengobatan, menggunakannya tanpa bantuan dokter atau profesional medis lainnya bisa berbahaya. Risikonya mulai dari salah diagnosis, penundaan dalam mencari saran medis, dosis yang nggak tepat, terapi yang salah, risiko ketergantungan dan penyalahgunaan.

Oleh karena itu, alangkah lebih baik jika penggunaan narkoba ini dipercayakan kepada ahlinya, agar dapat bermanfaat dan nggak merugikan orang lain.

Suka artikel ini? Yuk, follow Hipwee di mig.me!