NAMAKU Kalatimur Merona, nama pemberian ibuku tercinta. Aku lahir di waktu sangat pagi, orang menyebutnya “waktu fajar”. Selamat kepadaku, aku lahir di keluarga yang penuh kasih. Namaku Kalatimur Merona, aku tak tahu … sepertinya nama ini begitu berharga bagiku. Nama ini selalu kudengar di setiap lantunan doa bapak dan ibuku, di waktu pagi, siang, sore, dan malam. Atau mungkin di setiap embusan napas mereka.

***

Advertisement

“SEMOGA Bu Timur baik-baik saja,” suara mungil disertai isak tangis menggema dari luar kamar.
“Bu Timur pasti baik-baik saja,”
“Ini semua gara-gara kamu, Bim!”
“Apa? Aku? Ini salah Ari!”
“Eh, kok aku? Dinda yang memulainya”

Ramai. Dari yang awalnya suara sayup isak tangis, sekarang berangsur berubah jadi suara berisik yang mengganggu. Mereka murid-muridku. Andai tubuhku sudah bisa berfungsi normal, sudah pasti aku akan langsung kutenangkan mereka. Tapi sudahlah. Mereka masih kecil. Mereka cuma khawatir padaku.

Makin malam, suara berisik siang tadi berganti dengan hening yang paling sunyi. Nyanyiannya merdu. Persis seperti ketika malam bernyanyi di hari ketika aku memutuskan untuk memulai kehidupanku yang baru.

Advertisement

***

BU,
Timur tak tahu harus bagaimana lagi. Kota ini begitu asing. Timur tak kenal siapa-siapa. Orang-orang yang Timur anggap teman, ternyata tak menganggap Timur sebagai teman juga. Timur ingin menangis. Timur butuh Ibu.

Salam,
Kalatimur Merona

Meski zaman sudah modern, aku dan Ibu masih tetap menggunakan cara konvensional untuk saling bertukar kabar. Di tengah meriahnya emoji-emoji WhatsApp dan fitur-fitur canggih lain dari berbagai media sosial, aku dan Ibu masih setia saling bertukar surat.

Namun surat itu adalah surat terakhir yang belum sempat kukirim kepada Ibu. Tepat sebelum aku mengenal Dika. Sosok yang kupikir akan jadi pendamping setia di sisa hidupku, namun justru pergi entah ke mana.

Sialnya, waktu itu aku termakan gombalan Dika. Dialah yang membuatku mengurungkan niat untuk mengirim surat itu.

“Kamu sudah dewasa, Timur. Apa nggak kasihan ibumu kalau kamu terus-terusan membuatnya khawatir dengan surat-surat seperti ini?” katanya dengan nada yang waktu itu kuanggap benar-benar menenangkan. Sekarang? Kalau kuingat lagi rasanya geli sendiri.

Kenapa aku dulu bisa begitu percaya dengan kata-kata Dika? Apalagi selepas kalimatnya tersebut dia menambahkan, “Kan udah ada aku yang bisa jadi tempat curhatmu” Waktu itu aku benar-benar sudah dibutakan cinta. Logikaku mati. Argh!

Mungkin akan berbeda jadinya kalau surat itu sempat kukirim. Mungkin ibu akan lebih terbuka kepadaku dan bercerita soal penyakitnya. Aku menyalahkan Dika. Dialah yang membuat hidupku begini berantarkan. Mulutku terus mencacinya. Membenci namanya.

Meski begitu dalam lubuk hatiku yang terdalam sebenarnya aku paham. Kalau ini tak sepenuhnya salah Dika. Ya, Dika memang tetap salah. Karena dia pergi begitu saja ketika aku sedang sayang-sayangnya. Namun bukan dia yang membuatku melakukan apa yang selama ini kulakukan. Aku yang memilihnya. Aku sadar itu. Tapi mau bagaimana lagi.

“Bukankah memang lebih mudah ketika kita bisa melempar kesalahan kepada orang lain?”

***

AH, lagi-lagi kalimat itu muncul. Entah sudah berapa kali kalimat itu muncul dalam kurun satu minggu ini. Kali ini berasal dari pesan singkat yang dikirim oleh teman-temanku di organisasi kampus. “Timur, kami turut berduka. Kamu yang kuat, ya. Kalau butuh apa-apa kamu jangan sungkan bilang ke aku,” Persetan! Pesan mereka tak kubalas. Kubiarkan begitu saja.

Aku yakin mereka tak benar-benar niat mengucap belasungkawa. Ucapan mereka tak lebih dari untaian kata-kata klise yang mereka kirim sebagai kedok semata. Agar terlihat peduli, padahal dalam hati tak ada secuil iba.

Aku sudah muak diperlakukan layaknya gadis yang lemah. Sejak ibu meninggal, hampir tiap hari kudengar kalimat belasungkawa dari orang-orang di sekitar. Awalnya aku menghargainya. Kupikir mereka cuma berusaha menghiburku saja. Namun lambat laun kalimat itu terdengar mengesalkan. Meremehkan. Seakan aku adalah Kalatimur si gadis lemah yang tak bisa apa-apa dan selalu larut dalam kesedihan.

Sebelumnya, Leo yang jadi korban amukanku. Dia datang mengetuk pintu kamar dan langsung memelukku sembari mengucap “turut berduka cita”. Belum sampai kalimat itu selesai diucap bibirnya sudah berusaha mendekat. Sejak itu aku tahu bahwa hatinya tak tulus padaku. Leo tak tulus mengucap belasungkawa. Iya, dia memang terkesan berusaha menghiburku. Namun pada akhirnya dia ingin ‘menghibur’ dirinya sendiri.

Kutampar wajahnya dan langsung kuluapkan kata-kata makian kepadanya. Leo tertegun. Mungkin dia tak habis pikir kenapa aku bisa semarah itu padanya. Kudorong tubuhnya keluar kamar dan kututup pintu rapat-rapat sembari kuteriaki ia, “Dasar otak mesum!”

Pertengkaranku dengan Leo berimbas pula pada hubunganku dengan Galuh dan Wulan. Mereka berdua yang memperkenalkan Leo padaku. Kutegur mereka, tapi justru mereka marah kepadaku. Entahlah. Setelahnya, aku tak pernah lagi melihat batang hidungnya. Sejak itu aku tahu bahwa mereka tak pernah benar-benar peduli. Mereka cuma ada saat aku tertawa, saat aku bersedih, mereka lebih memilh pergi.

Setelahnya, seharian penuh aku menolak untuk bertemu orang. Bahkan Dika yang menelpon dan mengajak bertemu pun tak kugubris. Aku sudah muak mendengar ocehannya. Sebelum ibu meninggal Dika sudah pernah mengajak bertemu. Saat itu dia terus mengoceh tentang alasannya menghilang tanpa kabar.

“Kulakukan ini demi masa depanku. Demi kebaikan kita juga,”

Halah gombal! Kututup telingaku rapat-rapat. Semua kata yang dikeluarkan Dika sudah tak ada artinya. Bagiku cuma satu hal yang pasti, apapun alasannya, Dika egois. Sejak saat itu kuputuskan bahwa Dika harus hilang dari hidupku. Dika memang¾sebesar apapun kebencianku padanya¾cinta pertamaku. Dialah yang mengajarkanku indahnya jatuh cinta, namun dia juga yang mengajarkanku realitas. Bahwa cinta dan angan tak selalu sepakat untuk sama. Bahwa cinta, biar bagaimanapun indahnya, tetap saja butuh logika.

Kucari nama Dika dalam ponselku, lalu kupilih opsi “block”.

Hari sudah mulai malam. Aku merebahkan tubuhku di kasur kamar. Kemudian mataku mulai berkaca-kaca. Sedih? Jelas. Kupikir orang-orang yang kuanggap dekat padaku itu benar-benar peduli. Namun ternyata kepedulian mereka tak lebih dari ekspektasiku belaka. Aku menangis lepas, sekencang-kencangnya.

***

WAKTU menunjukkan pukul 09.27 pagi. Kuputuskan untuk melangkahkan kakiku menyusuri jalanan sekitar kampus. Tanpa tujuan, tanpa beban. Langkah kakiku terasa lebih ringan. Mungkin tangisku kemarin malam sudah melepas semua bebanku.

KRINCIIING~

Langkah kaki membawaku memasuki kedai kopi langgananku dulu. Kulihat semua masih sama seperti 6 bulan lalu saat aku terakhir ke sini. Mataku kurahkan pada meja favorit, ternyata sudah ada yang mengisi. Ada sepasang kekasih yang sedang duduk di sana. Si pria bertubuh kurus dan si wanita berjaket merah jambu. Mereka saling melempar tawa, sembari sesekali saling bertukar tatap mata penuh cinta.

Kulempar senyuman ke arah barista yang sedang jaga shift di pagi itu.

“Kopi hitam pahitnya satu ya, Mas!”

***

Kisah Kalatimur merupakan seri cerita bersambung dari Hipwee yang terbit setiap hari Jumat. Ikuti terus kisahnya dan temukan kejutan menarik di akhir cerita!

Baca episode sebelumnya di sini:

#1 – Musim Hujan Turun dari Timur

#2 – Sebuah Perkenalan, Sebuah Kebimbangan

#3 – Telur Mata Sapi

#4 – Kabar

#5 – Menertawakan Air Mata

#6 – Lelayu Dini Hari

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya