Menjadi seorang ibu adalah pengalaman yang luar biasa dan membahagiakan bagi setiap perempuan yang mendambakan kehadiran anak. Perjuangan dan susah payah hamil sampai melahirkan terasa nggak ada apa-apanya dibanding suka cita yang dirasakan kala menimang sang buah hati. Pokoknya, segala-galanya rela deh dilakukan demi anak, saking cinta dan bahagianya.

Berbagai usaha dan kerja keras pun dilakukan ibu sampai acapkali mengabaikan kepentingan dan ‘kewarasan’nya sendiri. Ditambah beban moral menjadi ‘ibu yang baik’ melalui beragam contoh figur ibu yang muncul di media sosial membuat banyak ibu yang rela mengemban tugas dan tanggung jawab sebagai ibu hampir 24 jam sehari, 7 hari seminggu tanpa jeda. Ujungnya kini jadi semakin banyak ibu yang memendam depresi karena merasa bertanggungjawab penuh hingga mengabaikan waktu me time yang sebetulnya sangat diperlukan.

Advertisement

Nggak perlu merasa bersalah, baca dulu nih ulasan Hipwee tentang risiko yang harus kamu hadapi kalau nggak punya waktu me time yang cukup!

1. Ibu yang nggak punya atau jarang sekali punya waktu me time rentan menyimpan depresi karena nggak bisa menyalurkan keinginan dan beristirahat dari rutinitas yang melelahkan

Kurang me time bisa bikin depresi lho via cachevalleyfamilymagazine.com

Me time atau waktu yang dinikmati sendiri tanpa kehadiran anak sesekali perlu dilakukan kok. Nggak usah takut merasa bersalah karena harus beristirahat dari tanggung jawab sebagai ibu, karena beban pekerjaan seorang ibu itu sangat berat dan melelahkan secara fisik maupun secara mental. Justru dengan mendapat me time, ibu akan dapat berfungsi lebih baik dan merasa lebih bahagia. Ingat, ibu juga manusia biasa yang sesekali butuh rekreasi dan menikmati hobi, nggak melulu harus kerja hampir 24 jam sehari demi menjadi ‘ibu yang baik’. Nggak perlu terlalu keras pada diri sendiri apalagi membanding-bandingkan dirimu dengan ibu lain apalagi ibu-ibu yang terlihat sempurna di sosial media, karena yang paling paham kondisimu ya diri sendiri.

Semakin tahun, ternyata waktu ibu bersama anak justru semakin meningkat lho. Nggak heran tingkat stres ibu justru meningkat! via static.independent.co.uk

FYI nih, dilansir dari independent.co.uk, faktanya ibu yang stres justru berbahaya bagi anak-anak mereka lho. Kei Nomaguchi, seorang sosiolog dari Bowling Green State University menuturkan, seorang ibu yang berjuang jungkir balik menyeimbangkan tanggung jawab kerja dan tugas mengasuh anak hingga berujung stres jusru akan memberikan dampak yang buruk bagi perkembangan anak lho! Duh, malah gawat ‘kan?

2. Ibu akan mudah emosi sehingga akan sering cekcok dengan suami. Hal ini dapat terjadi karena ibu tak menyimpan kepuasan dalam diri

Hayo, kurang me time malah bikin ribut dengan suami lho via in.pinterest.com

Advertisement

Agar tetap waras, ibu perlu mendapat me time yang cukup. Pasalnya, kurang me time akan membuat ibu jadi lebih labil dan mudah emosi karena terus memendam rasa tak puas dalam dirinya. Lelah, jenuh, kurang tidur dan kurang merawat diri bisa membuat ibu melampiaskan kekesalannya pada suami. Daripada ribut-ribut melulu, coba sesekali ambil waktu untuk belanja, jalan-jalan bersama sahabat atau mengerjakan hobi tanpa ada ‘gangguan’ dari suami atau anak. Nggak perlu merasa bersalah, justru waktu me time bisa jadi malah akan menyelamatkan pernikahanmu lho!

3. Depresi yang dialami ibu juga bisa jadi dilampiaskan ke anak. Jadinya ya seharian bisa marah-marah terus atas hal-hal yang sebenarnya sepele

Terlalu sering marah-marah justru akan membuat anak jadi pembangkang via www.redorbit.com

Sudah jelas kan? Semakin kamu merasa capek, lelah dan depresi, kamu akan jadi semakin sensitif dan mudah emosi. Ujung-ujungnya anak deh yang jadi korban pelampiasan. Anak tumpahin air ke lantai saja ngamuknya sudah kayak orang habis kemalingan. Bu, sabar ya. Dirimu cuma butuh waktu istirahat dan bersenang-senang kok, agar tetap bahagia dan ‘waras’!

4. Ibu merasa minder dan rendah diri sehingga depresi yang sudah terpupuk bakal makin menumpuk. Bisa berakibat pada kehidupan seks dengan suami juga lho…

Ibu yang depresi juga akan mengalami penurunan libido. Efeknya bisa nggak bagus untukmu dan suami via www.pattiknows.com

Jarang merawat diri bisa membuatmu menjadi lebih sensitif, mudah tersinggung, minder dan malah kehilangan niat bermesraan dengan suami. Ya, karena kurang waktu me time kamu jadi jarang bisa mandi dengan benar. Boro-boro mau luluran atau maskeran, mau mandi saja sudah ditungguin anak yang nangis meraung-raung. Agar mentalmu tetap sehat, coba minta tolong dengan suami agar bisa membantu mengalihkan perhatian anak sehingga kamu bisa ke salon atau merawat diri dengan lebih tenang. Jangan pelit-pelit juga sesekali mengeluarkan uang untuk membeli busana cantik yang bisa membuatmu lebih percaya diri. Meski sudah jadi Ibu, kamu berhak kok untuk tampil cantik dan memesona!

5. Ibu akan mudah merasa lelah sehingga sulit fokus dan justru semakin kacau saat bekerja, entah itu saat beraktivitas di rumah atau di kantor bagi yang kerja kantoran

Me time akan membuat tetap waras dan bahagia. Sesimpel itu! via www.thespruce.com

Depresi dan kelelahan justru akan mengurangi produktivitasmu, dibanding kalau kamu meluangkan waktu sesekali untuk me time dengan cukup. Sesekali pergi piknik bersama teman-teman kantor, berbelanja ke mal atau kencan mesra berdua suami saja nggak dosa kok, jadi nggak perlu merasa bersalah sama sekali untuk sesekali menitipkan anak ke orangtua, mertua atau orang terdekat yang dapat dipercaya ya. Selama kamu tetap menjalankan tugas sebagai istri dan ibu dengan baik, nggak ada salahnya kan lebih lunak sama diri sendiri. Justru kamu akan jadi ibu yang lebih baik saat bebas stres dan bahagia!

Memang sih buat ibu baru, meluangkan waktu pasti akan terasa sulit dan berat apalagi kalau anakmu masih kecil dan masih perlu perhatian khusus. Tapi sesekali menikmati diri dengan bersenang-senang sejenak dan bersantai dibutuhkan lho. Nggak cuma untukmu, tapi juga demi keharmonisan rumah tangga dan tumbuh kembang anak terjaga dengan baik. Nggak usah terlalu menerapkan standar lebay yang terkesan sempurna ya. Jadi ibu yang baik dan bahagia lebih baik daripada jadi ibu sempurna ‘kan?

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya