Suka Duka Berangkat Sekolah Naik Sepeda: Jauh Dekat Ditempuh demi Masa Depan yang Cerah!

Bersepeda ke sekolah

Sadar nggak sih kalau pengendara sepeda belakangan ini jadi makin banyak? Beberapa toko sepeda juga rasanya kewalahan menghadapi serbuan pembeli. Entah kenapa orang mendadak jadi seneng mengendarai sepeda. Mungkin karena mereka sudah sadar bahwa menjaga kesehatan itu penting banget, apalagi di masa pandemi seperti ini.

Advertisement

Jauh sebelum pandemi, pengendara sepeda sebenarnya sudah banyak. Dulu kamu juga pengendara sepeda, kan? Dulu banget, pas kamu masih SD dan SMP. Pulang pergi sekolah gowes dari rumah setiap hari. Nah, kali ini Hipwee Hiburan mau ngajak kamu untuk mengingat suka dukanya bersepeda ke sekolah. Yuk, nostalgia!

1. Sepeda sangat berjasa bagi kehidupan kita. Dialah yang menemani kita dalam menimba ilmu! Terima kasih, penemu sepeda :”)

Berangkat pulang naik sepeda. via lpmpjatim.kemdikbud.go.id

Jasa sepeda dalam hidup kita sungguh banyak. Dialah yang memudahkan kita berangkat dan pulang sekolah. Tanpa sepeda mungkin dulu kita akan sulit untuk menimba ilmu. Meski tetap capek mengayuhnya, tanpa sepeda mungkin kita akan merasakan capek yang belipat-lipat. Sungguh teknologi yang sangat berguna. Terima kasih, Baron Karl von Drais! 😀

2. Kadang kala bosan dan capek juga naik sepeda. Namun setelah kita ketemu teman bersepeda bareng, lelah sedikit berkurang karena dijalani sambil asyik ngobrol

Bareng teman jadi lebih ringan. via www.kompasiana.com

Ada masanya kita capek berangkat sekolah naik sepeda. Akhirnya kita memilih untuk naik angkutan umum. Namun lama-lama kita sadar kalau bujet kendaraan mending ditabung dan kembali memilih naik sepeda. Dan untuk mengakali agar nggak terasa capek, kita mencari teman yang searah biar ada temannya kalau berangkat dan pulang sekolah. Soalnya kalau sambil ngobrol, gowes jadi nggak berasa, tahu-tahu udah dekat rumah aja.

Advertisement

3. Momen pulang selalu menjadi momok tersendiri. Nggak lain karena panas matahari yang menyengat di ubun-ubun kepala

Rambut jadi pirang deh, karena kepanasan! 🙁 via www.borneonews.co.id

Naik sepeda ke sekolah itu menyenangkan, tapi yang nyebelin itu jelas pas pulangnya. Bayangin aja saat panas terik, kita harus menempuh jarak yang lumayan jauh. Apesnya lagi bagi mereka yang belum makan siang. Laper disuruh gowes, kebayang nggak tuh rasanya~

4. Paling males kalau pas mau pulang bannya bocor. Rasanya pengin jual sepeda aja terus naik angkot! 🙁

Ujian siang bolong. via rideralit.wordpress.com

Selain terik matahari, ban bocor juga menjadi ujian yang nggak kalah menyebalkan. Masih mending kalau mau berangkat, badan masih seger habis mandi dan sarapan. Nah, ini pas lagi laper dan capek-capeknya pulang sekolah. Sekali waktu kamu pasti pernah berpikir untuk meninggalkan sepeda itu atau menjualnya karena ngeselin. Tapi kamu inget lagi kalau sepedamu telah banyak berjasa. Akhirnya, kamu tuntun sepeda sembari menunggu teman yang melintas, berharap datang bantuan.

5. Dulu bersepeda jauh-jauh pun dijabanin, sebab nggak gampang capek. Sekarang baru gowes dikit udah ngos-ngosan~ 😀

Advertisement

Sekarang gampang capek. via www.gowesgo.com

Sadar nggak sih kalau semakin dewasa, manusia jadi semakin lemah? Itu bisa kamu buktikan diri dengan membandingkan ketahananmu gowes zaman dulu dengan sekarang. Dulu jarak jauh ditempuh setiap hari nggak jadi halangan demi menimba ilmu, sekarang bersepeda sebentar ke warung aja udah ngos-ngosan. Bahkan dulu kalau main sama teman, rutenya cari yang jauh. Sekarang mau ngulangin itu lagi mikir dua kali. Mending pesen ojol. Akurat? 😀

Jauh sebelum pandemi kita semua sebenarnya sosok yang peduli akan kesehatan. Bersepeda tiap hari menempuh jarak yang jauh, semua dilakukan demi menuntut ilmu. Nggak tahu deh sama para pesepeda sekarang motifnya apa. Apakah benar-benar ingin cari keringet apa cuma ngikut tren doang. Soalnya nggak wajar aja kalau misal alasannya pengin sehat, tapi kalau malam Minggu bergerombol nongkrong bareng pesepeda lain. Bukankah corona masih merajalela, ya?! 🙂

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Fiksionis senin-kamis. Pembaca di kamar mandi.

CLOSE