The Love Case – Chapter 11

The Love Case Anothermissjo

Pada akhirnya, Joval tahu bahwa ia dan Muara tak akan bisa ke mana-mana sebelum dirinya menyelesaikan masalah di masa lalu. Mampukah Joval melakukannya? Ataukah ia harus merelakan perasaannya?
***

Sabtu siang Joval sudah duduk manis di restoran dekat rumah Amini. Dia meminta tolong pada Dalamm untuk membantunya bertemu dengan Amini tanpa sepengetahuan perempuan itu. Joval sudah mencoba menghubungi Amini sendiri, tetapi seperti yang sudah-sudah, Amini menolak bertemu. Beruntung, Dalamm berhasil membuat janji temu dengan Amini.  Joval sudah tidak sabar membahas beberapa hal yang perlu diluruskan dan diselesaikan sejak lama dengan Amini. Semoga saja mantan istrinya benar-benar datang karena dia sudah menunggu lima belas menit, belum ada tanda-tanda kedatangan Amini. 

Tepat dia akan mengambil ponsel, dia mendengar suara yang nyaring. 

“Kok ada …” Amini tertawa kecil menggantung kalimatnya, yang kemudian berganti menjadi decakan kesal. “Sialan. Ini pasti ulahnya Dalamm biar kita ketemu.” 

Joval sudah menduga reaksi asli tanpa dibuat-buat mantan istrinya adalah seperti ini. Niatnya untuk meluruskan masalah memang sudah tepat. “Bukan, ini mau aku biar kita ketemu. Ada yang mau aku bicarakan sama kamu,” ucap Joval.

“Mau bicara apa, sih?” 

“Duduk dulu. Kita bicarakan hal-hal yang selama ini nggak pernah dibahas.” 

“Nggak mau.” 

“Ami, sekali ini aja. Setelah ini nggak ada lagi pertemuan berdua kayak gini. Please …?” mohon Joval.

Amini tidak banyak bicara dan langsung menarik kursi di depan Joval. Sambil bersedekap di dada, dia menatap sang mantan suami. “Mau bahas apa? Waktu aku nggak banyak. Aku mau pergi sama sepupuku,” tanyanya berbohong. Dia sangat senggang karena setelah pulang ingin menonton ulang film The Proposal. 

“Aku minta maaf atas semua hal yang pernah terjadi di masa lalu. Aku paham kamu kecewa dengan semua tindakan, sikapku, dan hal-hal yang menyakiti kamu sampai akhirnya kita bercerai. Aku minta maaf nggak bisa menjadi suami yang baik untuk kamu. Aku gagal memberikan kebahagiaan yang selalu kamu impikan. I’m really sorry, Ami.” 

Kalimat yang ingin Amini dengar sejak lama, baru dia dengar sekarang. Bukan berarti semua salah Joval. Pernikahan kandas karena dia dan Joval sudah sepakat untuk berpisah, bukan sebatas sepihak yang menginginkan perceraian itu. 

“Kenapa kamu baru ngomong sekarang?” Amini menyahuti dengan nada agak kesal. Kedua tangan masih bertaut di depan dada. 

“Setelah cerai aku coba hubungin kamu, tapi kamu ganti nomor. Semua akun sosmed-ku kamu blokir. Gimana aku bisa minta maaf kalau kamu aja udah menolak untuk bicara sama aku? Aku nggak mungkin nyuruh adik kamu untuk sampaikan maafku ke kamu, rasanya kurang etis. Kita selalu debat baik hal sepele ataupun besar, nggak pernah akur setelah kamu muncul lagi. Aku pasti nyakitin kamu banget sampai kamu selalu nyindir aku terus. Makanya aku berutang maaf sama kamu dan baru bisa kusampaikan hari ini.” Joval menjawab dengan lembut, seperti dulu dia bicara dengan Amini. Tidak ada tarik-tarik urat. 

“Kenapa kamu minta maaf sama orangtuaku? Aku baru tahu dari Dalamm.”

Joval menatap Amini penuh rasa bersalah. “Karena aku gagal mempertahankan hubungan kita. Aku gagal membahagiakan kamu seperti janji aku waktu itu kepada mereka. Aku gagal dalam banyak aspek saat menjalin hubungan dengan kamu.”

Amini diam mendengarkan dengan mata yang tak berhenti memandangi wajah Joval. Sebenarnya, justru dialah yang lebih bersalah  daripada Joval. Selama berpacaran dan menikah Joval sudah banyak bersabar dan berkorban untuknya. Namun, dia tidak pernah bersyukur dan selalu merasa tidak cukup. Hal itu pula yang mungkin membuat Joval menyerah—pada akhirnya. Dia menjunjung tinggi gengsi dan ego. Inilah kenapa dia selalu menyindir Joval, menuntut laki-laki itu minta maaf, sedangkan dia sendiri belum kepikiran untuk melakukan hal yang sama. Baru setelah mendengar Dalamm memberi tahu kalau Joval minta maaf kepada orangtuanya atas perceraian mereka, Amini berniat meminta maaf. Sayangnya tidak pernah terealisasi, hanya sebatas niat saja. 

“Apa kamu masih cinta sama aku setelah kita cerai?” 

“Iya, banget. Setelah tahu kamu punya pacar, aku belajar move on.”

Amini mengubah raut wajahnya, menghilangkan kejutekan dan menggantinya dengan perasaan bersalah yang kian membuncah. Dia ingat bagaimana akhirnya berpaling lebih cepat, melupakan Joval, dan menikmati hidupnya lebih dulu dari laki-laki itu. Dia pikir Joval akan melakukan hal yang sama, mencari kebahagiaan baru dan melupakannya. Namun, mantan suaminya tidak seperti itu. Joval masih sendiri sampai detik ini meskipun dia tahu sekarang Joval menyukai seseorang. 

I never say this to you. I’m sorry for everything. Buat semua hal gila dan menyebalkan yang aku lakukan selama ini. Aku memang egois banget dan selalu nyindir kamu kayak bocah. Aku pikir waktu kita cerai kamu langsung move on makanya ketika aku nemu kecocokan dalam seseorang yang baru, aku langsung coba berhubungan dan melupakan our bittersweet marriage. Ternyata aku salah. Kamu nggak semudah itu berpaling. Kamu pasti terluka, mungkin lebih dari aku. Kamu nggak seharusnya minta maaf sama orangtuaku. Pernikahan yang kandas itu bukan salah kamu, aku pun salah. Ada banyak kekurangan dalam diri aku, sayangnya aku selalu meninggikan ego dan nggak mau intropeksi. I’m sorry,” balas Amini. Suaranya terdengar pelan, tidak ada nada tinggi yang keluar. 

Joval mengangguk pelan dengan senyum simpul di wajahnya. Amini kembali membuka mulutnya dan menambahkan, “Aku nggak akan nyindir kamu lagi. Tapi kalau nanti ada yang bikin aku ngotot, itu karena kita beda pendapat, bukan berarti aku nggak suka sama kamu. Tolong dicatat aja kalau aku nggak suka kalah berdebat.”

I know that.” Joval tertawa tanpa suara, diikuti anggukan kecil. “So, we’re good now?” 

Amini mengangguk. “Kalau kamu suka sama orang itu, ungkapin sebelum menyesal.”

“Maksud kamu?”

“Waktu sidang cerai berjalan, seharusnya kamu bisa lebih mengungkapkan perasaan kamu sama aku. Karena aku pikir semua benar-benar berakhir dan kamu nggak ada minta maaf atau bilang cinta lagi, aku menganggap semua selesai. Nyatanya kamu masih cinta, sedangkan aku udah cari pelukan baru.” Amini menurunkan tangannya dari dada, mengambil buku menu. Sambil melihat-lihat, dia melanjutkan, “Aku tahu dari Dalamm dan Ready kalau kamu suka sama Muara. They told me about it one week ago.”

Sialan. Sialan. Joval ingin menoyor kepala dua orang itu. Selalu saja membeberkan hal yang tidak perlu diberitahu pada siapa pun. 

“Aku harap kamu bisa lebih terbuka, lebih baik, dan lebih berusaha keras saat menggapai Muara. Aku rela kalau kamu sama dia. She’s a nice girl,” lanjut Amini. Senyumnya tertarik sempurna saat dia menaikkan pandangan melihat mantan suaminya. 

Joval mengangguk dengan tetap mempertahankan senyum. Amini tampak melakukan hal yang sama secara berulang, tak menunjukkan kejutekan lagi. 

Joval dan Amini berbaikan | ilustrasi: Hipwee via www.hipwee.com

“Oh, ya, waktu itu kenapa kamu hilang dan nggak berkabar apa-apa?” Joval membuka obrolan baru, mencoba memperbaiki obrolan-obrolan yang hilang selama bertahun-tahun. 

“Soalnya aku mau lupain kamu. Aku ambil S2 biar sekalian bisa fokus di satu hal, nggak mikirin kamu. Kalau aku bilang sama kamu, nanti aku nggak bisa nemu kebahagiaan baru. Jadinya aku diam-diam aja. Nggak mau bilang apa-apa sama yang lain juga karena Ready dan Dalamm ember. Akhirnya mereka lihat sendiri dari stalking akunku,” jawab Amini. 

“Mereka sedih kamu pergi gitu aja ninggalin kantor.” 

“Aku tahu. Setelah ini aku perlu minta maaf sama mereka karena kutinggalin gitu aja tanpa pamit atau bilang apa-apa. Meskipun mereka nggak ada protes, aku tahu mereka gondok sama aku tapi nggak berani ungkapin secara langsung. Maaf juga aku mendadak muncul setelah menghilang tanpa kabar. Aku kangen jadi lawyer.”

“Padahal sebelumnya kamu udah coba jadi travel blogger. Iya, ‘kan?”

Amini mengangguk. “But, you know, it’s not my passion. Aku nggak cocok di sana. Jalan-jalan memang kesukaanku, tapi mengulasnya nggak. Makanya aku balik ke kantor. Aku cuma suka pasal dan persidangan.”

Joval terkekeh. Dia tahu seberapa besar Amini menyukai dunia hukum. Waktu mereka satu kampus, Amini selalu paling menonjol dan menjadi lulusan terbaik. Mantan istrinya itu selalu tahu apa yang diinginkan. 

Obrolan mereka terus berlanjut. Tidak ada lagi gondok-gondokan atau jengkel-jengkelan di antara mereka. Kini, semua sudah terganti dengan pembicaraan yang lebih santai. Mereka sudah benar-benar bisa melepas masa lalu, menimbunnya dalam ingatan yang takkan pernah diingat atau diungkit lagi seperti sebelumnya. 

***

Berulang kali Joval mengambil napas dalam-dalam setelah turun dari mobil. Setelah urusannya dengan Amini selesai, dia mendatangi rumah Muara. Dia ingin menyatakan perasaannya sekarang. Sudah cukup lama dia memendam perasaannya. Apalagi dia tahu Muara punya perasaan yang sama. Tidak ada lagi yang perlu ditunggu. 

Joval menaikkan tangannya ke udara bersiap mengetuk pintu. Namun, tiba-tiba pintu terbuka. Untung saja saat pintu terbuka tangannya tidak bergerak. Dia membeku sesaat melihat Muara. 

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Jo si pecinta cerita Misteri dan Thriller yang senang menulis Romcom. Hobinya menonton drakor dan lakorn Thailand. Jo telah menerbitkan beberapa buku di antaranya My Boss's Baby dan Main Squeeze. Karyanya yang lain bisa dilihat di IG @anothermissjo

Editor

Penikmat kopi dan aktivis imajinasi