5 Alasan Kamu Perlu Segera Move On. Boleh Menikmati Patah Hati, tapi Jangan Kelamaan!

segera move on

Apakah saat ini kamu merasakan patah hati? Bagaimana rasanya? Sakit, bukan? Ya, hampir semua orang sepakat bahwa patah hati memang sakit rasanya. Terlebih lagi padanya yang sudah berjanji ingin mengikatmu dalam sebuah janji suci pernikahan. Namun, ternyata hanya manis janjinya saja yang dirasa, dia meninggalkanmu tanpa alasan. Mulai sekarang cobalah untuk move on dan rasakan manfaatnya.

Advertisement

1. Meski awalnya terasa berat, move on bisa menghindarkanmu dari perasaan bersalah

Move on/Photo by Piacquadino

Move on/Photo by Piacquadino via http://pexels.com

Pernah merasakan rasa cinta yang begitu dalam? Namun, tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba-tiba kamu mendapat pesan darinya..

“Maaf kita tak bisa bersama…”

Advertisement

Kamu pun bertanya-tanya, mengapa dia tega meninggalkanmu? Apakah ada yang salah dengan diriku? Sejenak kamu pun merasa bersalah. Kamu pun mencoba menerka-nerka apa mungkin ada kelakuanmu yang tanpa disadari membuatnya tersakiti. Sedih memang, tapi kamu harus kuat, kamu harus move on. Sebab, lambat laun kamu tersadar bahwa perasaan bersalah itu pasti ada dalam setiap hubungan. Rasa bersalah itu muncul karena logika pikiran kita yang sedang bekerja. Kamu lalu mencoba mengingat setiap detail kesalahan.

Namun, sekali lagi, kamu tidak perlu menyesalinya terlalu dalam. Masih ada hari esok untuk memperbaiki kesalahanmu. Cobalah untuk memaafkan dirimu sendiri. Tenang saja, rasa itu pasti akan sirna seiring berjalannya waktu setelah kamu berhasil move on darinya. So, Let's move on!

2. Move on membuatmu jadi pribadi yang lebih terbuka

Advertisement
Pribadi lebih terbuka/Photo by Huang Chuong

Pribadi lebih terbuka/Photo by Huang Chuong via http://pexels.com

Saat kamu menjalani hubungan dengannya, kamu akan merasa bahwa dunia hanya milik berdua. Pikiranmu selalu terpusat pada dia yang kamu cintai.

Bahkan terkadang egomu mengesampingkan orang-orang terdekatmu seperti teman ataupun sahabat. Padahal ia selalu ada dalam suka dan dukamu.

Namun, ketika hubunganmu berakhir, kamu merasa seolah-olah langit terasa runtuh. Kamu seperti tidak memiliki siapa-siapa. Kamu pun menjadi pribadi yang tertutup dan terlihat murung. Perasaan ini wajar kamu alami, tapi bukan berarti kamu harus selalu larut meratapinya. Kamu harus move on, ya. Ingatlah, bahwa kamu tidak sendiri. Percayalah bahwa teman atau sahabatmu masih menunggu peluk dan ceritamu saat ia begitu tega denganmu. Mulai sekarang, siapkan energimu untuk move on. Bukalah dirimu untuk siap menyambut lembaran baru bersama teman atau sahabatmu yang selama ini kamu tinggalkan. Percayalah, mereka akan sekuat tenaga untuk membantumu move on dengan cara yang lebih elegan.

3. Move on sebagai tanda bahwa kamu sudah siap untuk membuka hati kembali

Buka hati

Buka hati via http://pexels.com

Hubungan yang kandas tidak harus melulu membuatmu bersedih setiap saat. Mungkin kamu perlu waktu yang tidak sebentar untuk memulihkan hatimu. Kamu mungkin masih perlu menata hatimu seperti pada saat kamu belum mengenalnya. Kamu pun juga perlu menyeka sembap tangismu beberapa saat.

Namun, jika kamu sudah siap untuk melupakannya, cobalah belajar bahwa dunia tidak selalu tentangnya. Bisa jadi, seseorang yang Tuhan hendaki bersamamu hadir dalam bentuk pertemuan yang tak pernah kamu duga sebelumnya. Mungkin lewat temanmu, sahabatmu, atau secara “kebetulan” dihadirkan dalam bentuk sosok yang belum pernah bertemu denganmu sebelumnya. So, move on lah, buka hatimu. Sebab, kamu pun berhak untuk tak berlarut dalam kesedihan. Ingat, ada milyaran penduduk muka bumi ini. Kamu hanya perlu satu saja untuk melengkapimu. Masih ingatkah dengan pepatah

Hilang satu tumbuh seribu…

Jika bukan dia, kamu pasti akan menemukan sosok pengganti yang lebih baik darinya. Yakinlah, Tuhan telah mempersiapkan untukmu.

4. Move on tidak hanya tentang hati, tapi tentang cita-cita yang belum terwujud

Impian yang Belum Terwujud

Impian yang Belum Terwujud via http://pexels.com

Mungkin saat kamu masih berhubungan dengannya, ada beberapa sikapnya yang melarangmu untuk mewujudkan cita-citamu. Kamu pun tak bisa mengelak. Lalu, dengan berat hati kamu mulai menuruti dan mengesampingkan egomu. Meskipun sikapnya menghambat mimpimu, kamu tetap bersikukuh dengan seribu alasan, tidak lain karena demi menyenangkan sang pujaan hati.

Tapi, keadaan akan berbalik setelah kamu putus dengannya. Sesaat kemudian, kamu akan tersadar masih banyak mimpi yang terkubur selama ini. Satu kata untukmu, MOVE ON. Bisa jadi keputusanmu untuk melupakanya adalah waktu yang tepat untuk menggapai cita-cita yang selama ini kamu idamkan. Maka, segeralah move on. Jangan sampai cintamu membutakan angan-anganmu. Hidup hanya sekali, kamu masih punya energi besar untuk meraih apa yang kamu inginkan. So, is it wrong to move on quickly? 

5. Move on membuat kamu sadar bahwa sendiri bukan berarti tidak bisa melakukan apa-apa

Sendiri Bukan Berarti Tidak Bisa

Sendiri Bukan Berarti Tidak Bisa via http://pexels.com

Jika dulu hampir setiap hari kamu menghabiskan waktu bersamanya. Bercanda tawa bersama. Berangkat dan pulang bersama. Ketika kamu bersedih, ia selalu menghiburmu. Ketika bimbang, ia yang selalu hadir menguatkanmu. Ketika kamu marah, ia yang pertama kali meredakan amarahmu. Kini, setelah semuanya berakhir. Tidak ada lagi senyumnya yang meluluhkan emosimu. TIdak ada lagi bahu yang memberi ketegaran dalam peluh dan tangismu. Kamu pun merasa sendiri.

Ingatlah, dulu ketika hadirmu di dunia untuk pertama kalinya. Apakah kamu bersamanya? Tidak, bukan? Lalu mengapa saat ini kamu meratapi kepergiannya? Move on lah! Kamu bisa bangkit dengan kaki tanganmu sendiri. Kamu bisa pergi kemanapun tanpanya. Kamu terlalu kuat untuk selalu bersamanya. Sebab sendiri belum bukan berarti tidak bisa. 

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Seorang customer support yang mencintai dunia sains dan buku.

Editor

Not that millennial in digital era.

CLOSE