Kisah Sukses sang Pendiri Nike. Sempat Bingung akan Masa Depan Sebelum Bisnisnya Berkembang

kisah sukses pendiri nike

Siapa yang nggak tahu dengan merek terkenal Nike?

Meskipun baru sekadar jatuh hati dan belum sempat memiliki, paling nggak kamu mungkin sudah mendengar merek yang satu ini. Apalagi orang-orang yang menjadi penggemar sneakers, paling nggak ada 1 pasang sepatu dengan merek ini di rak sepatunya. Nike memang menjadi salah satu brand terkenal di dunia saat ini, tapi siapa sangka ternyata perjalanan penemunya cukup panjang sampai produk ini akhirnya terealisasi.

Phil Knight, ia adalah pendiri merek legendaris ini. Seperti orang-orang pada umumnya, sebelum menemukan Nike ia ternyata juga pernah mengalami masa krisis dan merasa bingung akan masa depannya lo. Simak yuk perjalanan selengkapnya!

Phil Knight ternyata merupakan seseorang yang memiliki hobi berlari dan menjadi anggota tim inti ketika bersekolah

Phil Knight lahir pada 24 Februari 1938 di Amerika Serikat. Ketika masuk sekolah, ia ternyata memiliki ketertarikan dan bakat di bidang olahraga khususnya lari. Ia bahkan sudah menjadi anggota kunci tim lari pada saat bersekolah di Cleveland Highschool di Portlandia. Begitu kuliah di Universitas Oregon, ia juga masih tetap berlari dan malah bertemu dengan pelatihnya Bill Bowerman yang melatihnya menjadi pelari jarak menengah.

Uniknya dia justru lulus menjadi sebagai seorang sarjana jurusan Jurnalisme. Ia sempat menjadi seorang konresponden olahraga untuk koran Oregon yang bahkan tetap membuatnya berlari 11  km dari rumahnya.

Jangan dikira perjalanannya mulus-mulus saja setelahnya. Phil juga sempat mengalami krisis dan bingung akan masa depannya

Seperti lulusan sarjana lainnya, Phil juga sempat kebingungan tanpa uang dan belum memiliki arah yang jelas akan mau dibawa ke mana masa depannya. Ia bahkan sempat mendaftar menjadi tentara dan mengabdi selama satu tahun. Setelahnya, ia kemudian kembali melanjutkan kuliahnya ke jenjang master di Stanford’s Graduate School of Business. Setelah lulus, ia ke Jepang dan menemukan sepatu merek Onitsuka Tigers.

Melihat kualitas dan harganya, Phil membeli sepatu tersebut dalam jumlah banyak di bawah nama Blue Ribbon Sports dan berkata bahwa perusahaannya ingin menjadi distributor mereka di Amerika. Ketika kembali ke Amerika Serikat akhirnya Blue Ribbon Sport benar-benar didirikan bersama Bowerman.

Dari sana, Phil merasa bahwa akhirnya ia menemukan apa yang dia inginkan. Bisnisnya pun berangsur-angsur makin berkembang

Dari tahun 1964 sampai tahun 1971, Blue Ribbon Sport masih tetap menjadi distributor Onitsuka Tiger tapi adanya permasalahan yang terjadi antara kedua belah pihak seperti proses pengiriman yang molor dan kesepakatan lain yang sulit ditepati akhirnya Blue Ribbon Sport memutuskan untuk memproduksi produk mereka sendiri. Bersama dengan hal tersebut, perusahaan ini juga mengubah nama mereka menjadi Nike yang merupakan Dewi Kemenangan dan Keberhasilan. Mereka juga membuat logo Swoosh yang tetap dipakai sampai sekarang.

Nike ingin menjadi pakaian olahraga yang digunakan oleh atlet-atlet sehingga mereka memfokuskan marketing dalam bidang tersebut

View this post on Instagram

A post shared by Nike (@nike)

Kecintaan Phil Knight terhadap olahraga membuatnya ingin membuat pakaian dan sepatu yang digunakan untuk berolahraga pula. Selain itu, menurutnya cara untuk mendorong brand ini adalah dengan membuatnya dipakai, digunakan, dan dipuji oleh para atlet. Benar saja, setelah produk-produk mereka digunakan oleh atlet terkenal maka publisitasnya pun meningkat. Bahkan merek ini mampu menyaingi penjualan Adidas yang sudah sukses sebelumnya.

Nike juga mengakuisisi Converse dan Cole Haan yang membuatnya makin menjadi merek sepatu dan pakaian olahraga terkuat di dunia. Bahkan, Nike mampu membawa pemiliknya masuk ke jajaran orang terkaya.

Nah, ternyata peluang bisnis bisa muncul dari mana saja. Bahkan ketika lulus kuliah, Phil Knight juga sempat bingung akan apa yang selanjutnya dilakukannya. Namun dari hobi yang ia tekuni ternyata kesuksesan itu datang padanya.

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Editor

An independent woman, loving mom and devoted wife.