Seperti yang diketahui, bullying adalah tindakan di mana satu orang atau lebih mencoba untuk menyakiti orang lain, baik secara fisik atau secara verbal. Secara mental, anak-anak yang mengalami bullying akan mengalami masalah jangka panjang seperti, nggak pede, sulit bersosialisasi dan rentan mengalami depresi. Sedang anak yang melakukan bullying jika nggak diberi pengertian dengan tepat, akan mengulangi pola bullying serupa karena menganggapnya hal yang wajar.

Biasanya, anak-anak pelaku bullying melakukannya secara nggak sadar, karena belum tahu mana yang boleh dan yang nggak boleh untuk dilakukan kepada teman-temannya. Maka peran orangtua di saat interaksi sosial sang anak sangat tinggi hari ini, menjadi begitu penting agar sang anak nggak jadi korban, apalagi jadi pelaku bullying. Berikut ada beberapa hal penting, yang bisa menjadi peganggan para orangtua atau calon orangtua, untuk menyikapi sang anak kalau suatu saat tanpa ia sadari melakukan bullying.

1. Moms, memarahi nggak akan membuat si anak serta merta sadar akan kesalahannya lo. Baiknya bicaralah dari hati ke hati dan cari tahu alasan si anak melakukannya

Buka dialog dan bicara baik-baik dengan sang anak via shopee.co.id

Advertisement

Sebagai orangtua pasti saja ada perasaan malu dan sedih jika anak melakukan kesalahan. Namun, jangan keburu marah kepada anak. Membuka obrolan dengan si anak dan menanyakan alasan apa yang menyebabkan si anak melakukan bullying, adalah langkah pertama yang baik. Meski apapun alasan yang mendasari perilaku bullying itu nggak baik, tapi dari sini bisa diketahui, apakah si anak melakukan itu karena nggak percaya diri, merasa superior atau balas dendam. Sehingga sebagai orangtua bisa mencarikan solusi terbaik untuk dilakukan.

2. Tanamkan pengertian dengan cara mengibaratkan si anak yang jadi korban bullying. Ini juga bisa mengasah rasa simpati dan empati anak lo!

Beri pengertian kepada sang anak via www.ucsf.edu

Kalimat perumpamaan seperti “Jika kamu sekarang merasa lebih kuat dan membully temanmu, apakah kalau nanti dia yang lebih kuat kamu rela untuk dibully?” Dengan pengertian bahwasanya satu anak dan anak lainnya setara, sehingga memiliki potensi yang sama ini, secara nggak langsung anak pelaku bullying akan berpikir dan bisa menyadari kesalahannya. Tekankan konsep kesetaraan manusia. Anak bisa merasa superior dari anak lainnya hanya karena mereka belum tahu.

3. Hindari melabeli anak saat memberikan pengertian. Butuh kedewasaan dan kesabaran saat melakukan hal ini, tapi percaya deh ini akan memudahkan anak untuk lebih terbuka

Jangan melabelkan anak dengan sebutan tendensius ketika membuka dialog via thebodyisnotanapology.com

Ketika berdialog dengan sang anak, cobalah sebisa mungkin nggak menyebut anak dengan sebutan “anak nakal” atau “anak sok jagoan”, hanya untuk menekankan bahwa orangtua nggak menyetujui sikap sang anak tersebut. Dalam proses pendewasaan, perilaku anak sangat mungkin berubah-ubah. Dan label yang kadung dilekatkan kepada anak yang melakukan kesalahan ini, bisa saja menjadi stigma di diri sang anak, yang bakal susah ia lepaskan nantinya. Nggak mau kan, anak tumbuh “nakal” karena kemarahan sesaat orangtua?

4. Beri konsekuensi yang sungguh-sungguh sebagai bukti bahwa orangtua nggak menolerir tindakan bullying. Jangan cuma ancaman kosong semata!

beri anak hukuman yang meaningful sehingga ia bisa menyadari kesalahannya via parentingsquad.com

Advertisement

Mempertimbangkan dan memberi konsekuensi berupa hukuman kepada sang anak adalah penting. Bukan berarti sebagai orangtua nggak menyayangi anaknya, melainkan konsekuensi ini ditujukan agar sang anak sadar bahwa nggak ada toleransi untuk setiap tindakan salah yang merugikan orang lain. Konsekuensi yang diberikan pun harus tepat dan diikuti oleh penjelasan mengapa ia mendapatkan konsekuensi itu.

5. Berbaikan dengan pihak yang dibully dan keluarganya agar kejadian bullying nggak terulang lagi

berdamai dengan anak korban bullying dan keluarganya via www.brighthorizons.com

Sikap penting yang harus diambil orangtua ketika anaknya menjadi pelaku bullying adalah, berusaha berbaikan dan berdamai dengan pihak korban. Bukan berarti mewajarkan apa yang telah terjadi, tapi lebih kepada usaha evaluasi perilaku anak. Dengan jalan ini nantinya diharapkan anak nggak jadi bermusuhan atau dendam, dan masing-masing keluarga bisa menjadi partner dalam usaha meniadakan tindakan bullying di kemudian hari.

6. Mengevaluasi apa yang terjadi di lingkungan rumah, siapa tahu ada yang memicu perilaku bullying pada anak

evaluasi keluarga dan hubungan si anak dengan saudaranya via proactiveparenting.net

Karena nggak jarang perilaku bullying pada anak dipicu dari masalah yang ada dalam keluarga. Orangtua harus mengevaluasi apakah pola pengasuhan anak dan didikan di rumah sudah tepat untuk si anak. Atau apakah di antara saudara di rumah sang anak terlibat pertengkaran yang kerap mengarah kepada perilaku bullying. Sebab hal ini dibutuhkan sebagai kunci dari usaha meminimalisir prilaku bullying pada anak-anak. Karena ketika anak berada di luar rumah, ia akan melakukan apa yang ia dapatkan dari rumah.

Perhatian dan pengertian dari orangtua sangat berpengaruh kepada tumbuh dan perilaku sang anak. Karena bullying bisa terjadi kepada siapa saja dengan cara yang berbeda-beda. Bukan nggak mungkin sebagai orangtua, atau calon orangtua, kelak kamu akan dihadapi oleh posisi seperti ini. Menyiasati keadaan seperti itu, beberapa hal seperti yang sudah dijelaskan di atas, bisa kamu pegang sebagai bekal dalam menghadapi sang anak.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya