Jadi Duta UNICEF, ini Pesan Penting Nicholas Saputra Soal Kesehatan Mental Anak di Masa Pandemi

nicholas saputra unicef

Tak hanya orang dewasa, anak-anak juga menjadi salah satu yang terkena imbas pandemi Covid-19 walaupun mungkin secara tidak langsung. Belajar di rumah dalam jangka waktu yang panjang tanpa ada kesempatan untuk ke luar rumah sekadar jalan-jalan atau bertemu teman sebaya akan membuat mereka stres dan hal ini bisa mempengaruhi perkembangannya, belum lagi jika suasan di rumah kurang mendukung seperti orang tua yang sering bertengkar atau adanya masalah tertentu secara terus-terusan.

Advertisement

Sebagai duta UNICEF yang diangkat sejak tahun 2019 lalu, Nicholas Saputra baru-baru ini menyinggung tentang kesehatan mental anak di masa pandemi. Dalam sebuah video singkat, ia menyampaikannya kepada anak-anak di Indonesia. Kita simak yuk isi selengkapnya!

Perasaan sedih hingga kecewa yang dirasakan anak-anak wajar terjadi, karenanya Nico menyarankan untuk tidak mengabaikan perasaan tersebut

Credit: UNICEF ORG via www.unicef.org

Berbagai perasaan sedih, kecewa, bosan karena di rumah dan tak bisa ke sekolah untuk bertemu teman-teman hingga melihat orang tua yang kehilangan pekerjaan bagi sebagian orang kerap dirasakan di masa pandemi ini. Hal tersebut akhirnya mempengaruhi sang anak yang membuat mereka merasa tak berdaya, kecewa, hingga marah dengan keadaan. Menurut Nico, hal ini tak bisa diabaikan begitu saja apalagi jika mulai timbul perasaan tidak nyaman karena dengan penerimaan dan kesadaran itu justru anak akan bisa tahu langkah selanjutnya untuk merasa lebih baik.

Advertisement

Kegiatan layaknya saat masih  normal termasuk melakukan hobi, semua masih bisa dilakukan namun tetap harus di rumah

Lelah/ Credit: Pexels via www.pexels.com

Kegiatan rutin yang biasa dilakukan saat masih masuk sekolah dulu seperti mengerjakan tugas hingga olahraga tidak masalah jika tetap dilakukan di masa sekarang dengan kunci semuanya dilakukan di rumah saja. Melakukan hobi serta hal yang disukai juga sebaiknya tetap dikerjakan mesti ruang lingkup yang makin terbatas. Akan tetapi, dengan bantuan teknologi hal ini seharusnya bisa lebih mudah. Jika sang anak masih kecil, orang tua juga bisa melakukan janjian dengan orang tua lain untuk melaksanakan pertemuan virtual anak-anak agar mereka tetap bisa berkoneksi dan tidak merasa bahwa mereka melaluinya sendirian.

Stres bisa jadi akan memiliki dampak yang beda terhadap setiap anak, jika berbahaya konsultasikan dengan sang ahli

Stres banget/ Credit: Pexels via www.pexels.com

Jika tahap stres masih bisa diatasi dengan menelpon orang atau orang-orang yang dicinta maka kamu bisa melakukannya secara berkala. Akan tetapi jika perasaan khawatir, takut, sedih hingga marah tadi tak kunjung pergi maka Nico menyarankan agar membiarkan anak lebih terbuka ngobrol dengan orang yang dipercaya seperti saudara atau orang tua dan jika tak kunjung terobati pula maka tak ada salahnya menghubungi profesional. Dalam hal ini, orang tua juga perlu lebih memerhatikan bagaimana keadaan emosi sang anak apakah sampai ke tahap mengurung diri atau bahkan menyakiti. Jika iya, maka bantuan profesional adalah kuncinya.

Selain penjelasan dari Nico, orang tua juga bisa memerhatikan terjadinya gangguan mental pada anak dengan memerhatikan perubahannya

Advertisement

Main gawai/ Credit: Pexels via www.pexels.com

Dilansir dari The Union Journal, ada beberapa tanda yang bisa digunakan orang tua untuk mengecek anaknya yaitu terjadinya perilaku regresi seperti kembali mengompol dan main dengan mainan kesayangannya. Nafsu makan biasanya akan menurun serta jam tidur juga terganggu karena kecemasan yang dirasakan. Anak-anak juga biasanya lebih melekat pada orang tua serta bertindak berlebihan atau justru menarik diri dan lebih memilih bermain gawai di kamar mereka. Keluhan semacam sakit kepala hingga sakit perut juga bisa lo menjadi satu tandanya.

Jika berbagai langkah memperbaiki mood sudah dilakukan namun hal di atas semakin buruk dan orang tua belum mantap untuk pergi ke dokter, maka bisa melakukan konsultasi melalui Layanan Sejiwa yang terbuka dengan nomor 119 ekstensi 8 atau telepon pelayanan sosial anak di nomor 1 500 771.

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Editor

An independent woman, loving mom and devoted wife.

CLOSE